Iran Sampaikan Belasungkawa kepada Nepal, Korban Tewas akibat Banjir Capai 552 Orang

banjir Nepal

Tehran, Purna Warta – Iran menyampaikan belasungkawa kepada Nepal atas bencana banjir bandang dahsyat yang melanda negara tersebut, yang telah menewaskan sedikitnya 552 orang sementara ratusan lainnya masih dinyatakan hilang.

Ratusan orang tewas dan banyak lainnya masih hilang setelah banjir parah dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah Nepal pada Rabu. Bencana tersebut menciptakan gelombang air menyerupai tsunami yang menerjang wilayah perbatasan antara Nepal dan Tibet, menyapu bersih sejumlah desa.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan belasungkawa kepada pemerintah dan rakyat Nepal menyusul jatuhnya korban jiwa dan luka-luka akibat kondisi cuaca ekstrem yang menurut para ilmuwan berkaitan dengan pemanasan global.

Dalam pesannya kepada Presiden Nepal Ram Chandra Paudel, Pezeshkian menyampaikan simpati atas nama dirinya dan bangsa Iran atas jatuhnya korban jiwa serta luka-luka yang dialami penduduk setempat dan para wisatawan.

Presiden Iran mengatakan bahwa berita tersebut menimbulkan kesedihan yang mendalam. Ia secara khusus menyampaikan simpati kepada keluarga yang kehilangan anggota keluarga serta mereka yang terdampak bencana, dan mendoakan agar para korban luka segera pulih.

Pezeshkian menyatakan kesiapan Iran untuk memberikan bantuan kemanusiaan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki guna membantu Nepal menghadapi bencana tersebut. Ia juga mendoakan para korban yang meninggal dunia serta berharap bangsa Nepal dapat melewati bencana ini dengan kekuatan dan keteguhan.

Dalam langkah serupa, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei juga menyampaikan simpati kepada pemerintah dan rakyat Nepal.

Baghaei menyampaikan belasungkawa kepada keluarga mereka yang tewas atau hilang dalam bencana tersebut serta mendoakan agar para korban luka segera pulih.

Pada Jumat, Nepal meminta bantuan keuangan dari masyarakat internasional untuk membantu menangani krisis tersebut dengan lebih baik.

Pada Kamis, Masyarakat Bulan Sabit Merah Iran menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban banjir dahsyat tersebut dan menawarkan untuk mengirimkan tim bantuan serta tim medis ke wilayah-wilayah yang terdampak banjir.

Menurut data terbaru, 1.500 orang masih dinyatakan hilang dan sedikitnya 552 orang telah meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Palang Merah pada Jumat menyatakan bahwa diperkirakan 93.000 orang mungkin terdampak bencana tersebut dan jumlah korban tewas diperkirakan masih akan terus bertambah.

Media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa tim penyelamat telah mencapai wilayah utama yang hancur akibat longsor lumpur dahsyat di Tibet.

“Sekitar pukul 16.30 (08.30 GMT) pada 28 Agustus, enam anggota tim tanggap pertama dari Korps Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Tibet serta 15 anggota dan seekor anjing dari tim tanggap pertama Korps Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Sichuan tiba di wilayah perbatasan… Mereka merupakan tim profesional pertama yang mencapai lokasi inti penyelamatan,” demikian dilaporkan kantor berita Xinhua.

“Karena jalan dan jembatan telah tersapu banjir, sementara jaringan telepon seluler dan listrik juga terputus, kami belum dapat mencapai beberapa wilayah yang paling parah terdampak,” kata David Fisher, kepala delegasi Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah untuk Nepal. “Trauma akibat peristiwa ini sangat besar.”

Sementara itu, Angkatan Darat Nepal mengatakan telah menemukan orang-orang yang terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air Trishuli 3A. Mereka sedang berupaya mengeluarkan para penyintas dari lokasi tersebut.

“Dua helikopter telah dikerahkan, tetapi situasinya sangat sulit karena bahkan untuk menemukan titik masuk terowongan saja sangatlah sulit,” kata juru bicara Angkatan Darat Nepal Raja Ram Basnet kepada AFP.

Sekitar 350 pekerja dan warga telah berhasil dievakuasi ke tempat yang aman dari lokasi tersebut, tambahnya. Namun, lebih dari 100 orang masih terjebak di kawasan yang sama.

Di tempat lain, pihak berwenang India mengatakan telah menemukan tujuh jenazah yang diduga merupakan korban banjir yang terbawa arus sungai yang berhulu di Nepal.

Para ilmuwan mengaitkan bencana di Nepal dengan pemanasan global, yang menyebabkan pencairan gletser di kawasan tersebut serta memicu tanah longsor dan banjir.

Gletser di seluruh dunia telah kehilangan sekitar 5 persen esnya dalam 2,5 dekade terakhir, dengan dampak yang jauh lebih parah di sejumlah wilayah tertentu.

Di Nepal, gletser kehilangan hampir seperempat luasnya antara tahun 1970 dan 2010. Penelitian menemukan bahwa lebih dari 160 gletser kecil di negara tersebut telah menghilang sepenuhnya.

Menurut para ahli iklim, sekitar 40 persen seluruh es gletser di dunia dapat menghilang apabila pemanasan global tidak berhasil dipertahankan di bawah 1,5 derajat Celsius.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *