Film tentang Gadis Palestina “The Voice of Hind Rajab” Raih Nominasi Oscar

HInd Rajab

Washington, Purna Warta – Film The Voice of Hind Rajab, yang terinspirasi dari detik-detik terakhir tragis seorang gadis kecil Palestina yang tewas akibat tembakan Israel di Gaza, memperoleh nominasi Oscar dalam kategori Film Fitur Internasional Terbaik.

Disutradarai oleh sineas Tunisia Kaouther Ben Hania, film ini mengisahkan kisah nyata Hind Rajab, seorang anak perempuan berusia enam tahun yang kehilangan nyawanya pada Januari 2024 saat berusaha melarikan diri dari pemboman Israel bersama keluarganya.

Film tersebut menampilkan rekaman audio asli panggilan putus asa Hind kepada Bulan Sabit Merah Palestina, di mana ia memohon pertolongan beberapa saat sebelum kendaraan yang ditumpanginya dihantam oleh 355 tembakan.

Narasi yang menggugah ini dibuka dengan panggilan singkat dari kawasan Tel al-Hawa di Gaza yang terkepung, ketika suara tembakan dan kendaraan lapis baja menenggelamkan hampir seluruh bunyi di sekitarnya.

Setelah menyaksikan pembunuhan brutal terhadap keluarganya, Hind melakukan panggilan dengan suara gemetar, nyaris berbisik, menceritakan pembantaian tersebut dan rasa kesepian yang tak tertahankan sebagai satu-satunya penyintas.

Diputar perdana di Festival Film Internasional Venesia pada September 2025, The Voice of Hind Rajab meraih pujian luas, termasuk standing ovation selama 23 menit, yang memecahkan rekor, serta Silver Lion – Grand Jury Prize, penghargaan tertinggi kedua di festival tersebut.

Dalam pidato penerimaannya, Ben Hania mendedikasikan film ini kepada para pekerja kemanusiaan dan penanggap pertama di Gaza, seraya menegaskan bahwa suara Hind melambangkan suara tak terhitung warga sipil yang terdampak perang.

Ia menekankan tujuan film tersebut untuk memberikan suara kepada para korban yang kerap direduksi menjadi sekadar angka statistik, serta menyoroti penderitaan luas warga sipil di wilayah konflik.

Nominasi Oscar ini menegaskan kekuatan penceritaan film tersebut serta pendekatan etisnya dalam menggambarkan tragedi nyata, menjadikannya karya penting dalam sinema kontemporer.

Film ini tidak hanya menjadi narasi atas tragedi individual, tetapi juga sebuah respons artistik dan dokumenter terhadap keheningan dan sensor yang kerap menyelimuti konflik dan peperangan di Asia Barat.

Dengan menggunakan metode inovatif yang ia sebut docufiction, Ben Hania menjembatani realitas mentah dengan struktur naratif, menciptakan karya yang bernilai artistik sekaligus berdampak sosial.

Lahir pada 1977 di Sidi Bouzid—yang kemudian menjadi episentrum revolusi Arab—latar belakang Ben Hania sangat memengaruhi pandangan dunia dan pendekatan artistiknya.

Ia merupakan lulusan Higher School of Audiovisual Arts of Tunis, Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne, serta La Fémis di Paris, di mana pendidikannya membekalinya dengan perangkat teknis dan teoretis untuk mengangkat isu-isu kompleks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *