Washington, Purna Warta – Sejumlah media Amerika seperti CNN dan The Wall Street Journal sebelumnya melaporkan bahwa Iran menembakkan rudal balistik ke arah Pulau Diego Garcia di Samudra Hindia.
Baca juga: Karim Khan Dibebaskan Dari Tuduhan Terkait Perilaku Seksual
Klaim tersebut memicu reaksi dari Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, yang mengecam dugaan peluncuran tersebut dan menyebutnya sebagai “ancaman ceroboh dari Iran”.
Namun, klaim tentang peluncuran rudal balistik Iran ke Diego Garcia tidak pernah disebutkan dalam pernyataan resmi angkatan bersenjata Iran, dan tidak ada pejabat Iran yang mengonfirmasi operasi tersebut.
Salah satu hal yang dianggap janggal dalam laporan tersebut adalah jarak Pulau Diego Garcia yang lebih dari 4.000 kilometer dari pantai Iran. Sebelumnya, Iran secara konsisten menyatakan bahwa jangkauan rudalnya dibatasi sekitar 2.000 kilometer.
Pernyataan Kepala Staf Israel
Pernyataan terbaru dari Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, dinilai mengungkap motif tersembunyi di balik narasi serangan tersebut.
Dalam sebuah wawancara, Zamir mengklaim bahwa Iran telah menembakkan rudal balistik antarbenua yang dirancang untuk menargetkan ibu kota negara-negara Eropa. Ia kemudian menulis di platform X bahwa rudal tersebut “tidak dibuat untuk menyerang Israel, melainkan untuk diarahkan ke ibu kota Eropa.”
Pernyataan tersebut memunculkan dugaan bahwa tujuan utama penyebaran berita tentang serangan ke Diego Garcia—atau bahkan kemungkinan operasi false flag—adalah untuk menuduh Iran memiliki rudal antarbenua yang dapat mengancam Eropa.
Upaya Menarik Keterlibatan Eropa
Setelah laporan mengenai serangan tersebut beredar, pemerintah Inggris menyatakan kesiapannya untuk memungkinkan pangkalan militernya digunakan oleh pasukan Amerika Serikat dalam konflik yang digambarkan sebagai perang Presiden AS Donald Trump terhadap Iran. Pernyataan ini semakin memperkuat spekulasi bahwa narasi serangan ke Diego Garcia mungkin digunakan untuk membangun dukungan internasional bagi perang tersebut.
Meski demikian, London juga menyatakan bahwa pihaknya tidak berminat terlibat langsung dalam operasi ofensif terhadap Iran.
Selama beberapa tahun terakhir, Washington dan Tel Aviv kerap menuduh Iran berupaya mengembangkan rudal balistik antarbenua yang mampu menjangkau wilayah Eropa, sebuah narasi yang digunakan untuk menggambarkan Iran sebagai ancaman militer bagi benua tersebut.
Dalam situasi di mana Presiden Trump dilaporkan berulang kali mengeluhkan keengganan negara-negara Eropa dan sekutu NATO untuk bergabung dalam operasi militer terhadap Iran, narasi mengenai peluncuran rudal ke arah Diego Garcia dinilai sebagai upaya untuk menarik keterlibatan negara-negara Eropa dalam konflik tersebut.
Laporan Media Amerika
Dalam laporannya, The Wall Street Journal menulis bahwa beberapa pejabat Amerika menyatakan Iran menembakkan dua rudal balistik jarak menengah ke arah pangkalan militer gabungan Amerika Serikat dan Inggris di Diego Garcia. Rudal tersebut dilaporkan tidak mengenai pangkalan, tetapi dianggap sebagai indikasi pertama penggunaan operasional rudal balistik jarak menengah oleh Iran untuk menargetkan wilayah di luar Timur Tengah.
Baca juga: Bernie Sanders: Pengiriman Senjata ke Israel Ilegal
Media tersebut juga mengutip dua sumber yang menyebutkan bahwa salah satu rudal mengalami kegagalan teknis selama penerbangan, sementara kapal perang Amerika menembakkan rudal pencegat SM-3 ke arah rudal lainnya. Hingga kini belum ada kepastian apakah pencegatan tersebut berhasil.
Menurut laporan tersebut, jika benar Iran menargetkan Diego Garcia—sekitar 4.000 kilometer dari wilayahnya—hal ini menunjukkan bahwa jangkauan rudal Iran mungkin lebih jauh dari yang sebelumnya diumumkan oleh Tehran.
Pulau Diego Garcia sendiri merupakan pulau terpencil di wilayah Samudra Hindia milik Inggris yang memiliki nilai strategis tinggi. Amerika Serikat menempatkan berbagai aset militer di sana, termasuk pembom strategis, kapal selam nuklir, serta kapal perusak yang dilengkapi rudal berpemandu.
Sementara itu, Inggris sebelumnya tengah melakukan negosiasi untuk menyerahkan kedaulatan Kepulauan Chagos—termasuk Diego Garcia—kepada negara Mauritius, sembari membahas kemungkinan sewa jangka panjang agar pangkalan militer bersama Inggris–Amerika tetap beroperasi. Usulan tersebut dilaporkan mendapat penolakan dari Presiden Trump dan sejumlah anggota Partai Republik di Kongres Amerika Serikat.


