Tehran, Purna Warta – Gabungan citra satelit yang dirilis media Israel menunjukkan kerusakan pada sejumlah pangkalan militer Israel selama serangan balasan defensif Iran pada periode 28 Februari hingga 8 April.
Analisis terbaru terhadap citra satelit mengungkap kerusakan pada beberapa instalasi militer Israel akibat operasi defensif Iran dan Hezbollah, memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana tingkat kehancuran yang mungkin disembunyikan Tel Aviv dari publik.
Analisis citra satelit yang dipublikasikan Soar menunjukkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer di wilayah pendudukan selama operasi defensif terbaru Iran yang diberi nama Operasi Janji Sejati 4 (Operation True Promise 4), sebagai respons terhadap agresi AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari.
Agresi tanpa provokasi itu diawali dengan serangan udara yang menewaskan sejumlah pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyed Ali Khamenei, serta menargetkan infrastruktur sipil.
Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan besar terhadap pangkalan dan aset militer AS serta Israel di berbagai kawasan.
Laporan harian Yedioth Ahronoth yang dirilis Jumat dengan persetujuan sensor militer menggunakan gambar berkualitas rendah, sehingga menimbulkan keraguan lebih lanjut mengenai transparansi rezim tersebut terkait skala kerusakan sebenarnya.
Citra dari satelit Sentinel-2 menunjukkan bahwa Pangkalan Udara Ramat David terkena serangan di dua lokasi terpisah. Menurut analisis, salah satu area yang rusak tampaknya digunakan untuk kendaraan dan peralatan pendukung, sementara area kedua berfungsi sebagai titik pengisian bahan bakar dan servis jet tempur — infrastruktur penting bagi operasi udara Israel.
Citra tersebut juga menunjukkan perubahan mendadak di dekat sebuah struktur di pangkalan Mishar, fasilitas intelijen sinyal Unit 8200 dekat Safed. Analisis Soar mengindikasikan kemungkinan serangan terhadap pangkalan itu antara 5 hingga 10 Maret.
Gambar satelit tambahan memperlihatkan kerusakan pada sebuah posisi di Pangkalan Udara Nevatim yang terlihat jelas pada 25 Maret. Pangkalan itu menjadi salah satu target utama dalam respons Iran terhadap agresi AS-Israel.
Selain itu, citra satelit memperlihatkan kebakaran besar di Kamp Shimshon mulai 10 Maret, hari yang sama ketika Hezbollah mengumumkan serangan drone besar-besaran terhadap lokasi tersebut. Menurut analisis, api berkobar selama beberapa hari dan menyebar hingga sekitar 200 meter di dalam pangkalan.
Perbandingan dengan citra resolusi tinggi lama dari tahun 2016, 2024, dan 2025 menunjukkan bahwa area yang rusak secara konsisten digunakan untuk kepentingan operasional, termasuk penempatan kendaraan militer dan persiapan logistik.
Analisis tersebut mencatat bahwa citra sebelumnya tidak menunjukkan vegetasi signifikan di area tersebut, “yang mengindikasikan bahwa kebakaran disebabkan oleh serangan terhadap area penting di dalam pangkalan, bukan akibat kebakaran vegetasi.”
Penurunan kualitas gambar secara sengaja oleh sensor militer Israel mengindikasikan bahwa otoritas kemungkinan berupaya meminimalkan persepsi publik terhadap efektivitas operasi defensif Iran.
Sejak agresi tanpa provokasi dimulai, Iran telah meluncurkan sekitar 670 rudal dan 765 drone ke wilayah pendudukan Israel, menurut Yedioth Ahronoth.
Di tengah situasi tersebut, lembaga militer Israel dilaporkan tetap khawatir karena rudal balistik tidak menjadi fokus utama dalam pembicaraan Iran-AS mengenai gencatan senjata permanen.
Perang dihentikan sementara sejak 8 April setelah gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mulai berlaku.
Sementara itu, rezim Israel dilaporkan terus mendorong Amerika Serikat untuk melancarkan putaran perang baru terhadap Iran, setelah perang pada Juni 2025 dan Februari gagal mencapai tujuan yang diumumkan sebelumnya.


