Al-Quds, Purna Warta – Menurut laporan pemberitaan lokal, perang tersebut diperkirakan menelan biaya langsung antara 1,5 hingga 2 miliar shekel per hari, sekaligus menimbulkan kerugian signifikan bagi perekonomian Israel.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sekitar 26 persen sektor usaha di wilayah pendudukan berhenti beroperasi sepenuhnya atau sebagian, yang mencerminkan perlambatan tajam bahkan kelumpuhan relatif dalam aktivitas ekonomi.
Di sektor ketenagakerjaan, data menunjukkan peningkatan angka pengangguran. Dalam kurun waktu hanya satu minggu, sekitar 8.000 orang kehilangan pekerjaan, sehingga menambah tekanan terhadap kondisi ekonomi domestik.
Sementara itu, otoritas terkait menerima sekitar 16.200 permohonan kompensasi atas kerusakan yang dialami rumah, kendaraan, dan unit usaha, yang menunjukkan luasnya dampak kerusakan material akibat konflik tersebut.
Selain kerugian ekonomi, dampak sosial juga semakin terasa. Laporan menyebutkan lebih dari 5.000 warga terpaksa meninggalkan rumah mereka karena situasi keamanan yang memburuk, sehingga menjadi pengungsi internal di wilayah tersebut.
Tekanan Internal dan Situasi Keamanan
Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan internal terhadap pemerintah Israel akibat konflik yang berlangsung di beberapa front. Sejumlah laporan media Israel sebelumnya juga menyoroti meningkatnya biaya militer serta terganggunya aktivitas ekonomi di berbagai sektor.
Kondisi keamanan yang tidak stabil, termasuk peringatan serangan rudal yang berulang di sejumlah wilayah, turut memengaruhi aktivitas masyarakat dan dunia usaha. Penutupan sekolah, pembatasan kegiatan publik, serta meningkatnya kebutuhan belanja militer menjadi faktor tambahan yang membebani perekonomian.
Para analis memperkirakan bahwa jika konflik berlanjut dalam jangka panjang, biaya perang yang tinggi dan gangguan terhadap aktivitas ekonomi dapat semakin memperdalam tekanan terhadap ekonomi Israel, baik dari sisi fiskal maupun stabilitas pasar tenaga kerja.


