Warga Nagekeo Mengungsi Mandiri, Keluhkan Belum Ada Bantuan Pemerintah hingga Hari Ke-4 Pasca Gempa

Jakarta, Purna Warta – Warga Desa Ulupulu 1, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih diselimuti perasaan takut setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah itu pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Yanuarius Bala Pili, warga setempat, mengatakan bahwa aktivitas warga belum normal karena gempa susulan masih terus terjadi.

Saat ini, Yanuarius mengungkapkan, dia bersama ratusan warga lainnya mengamankan diri di halaman rumah. Mereka membangun tenda darurat secara swadaya, dilengkapi peralatan tidur seadanya.

“Hampir setiap hari kami rasakan getaran gempa, kami mengungsi secara mandiri,” ujar Yanuarius saat dihubungi, Selasa (18/8/2026).

Yanuarius mengaku, hingga hari keempat pascagempa, mereka belum menerima bantuan dari pemerintah. Warga cemas lantaran persediaan makanan menipis. Untuk sementara, mereka mengandalkan pangan lokal seperti jagung, ubi, dan pisang untuk memenuhi kebutuhan.

“Kami bertahan dengan pangan lokal, jagung, ubi, dan pisang. Bantuan belum ada sampai sekarang,” katanya.

Wenslaus Tue (61), warga lainnya, berharap agar pemerintah segera turun tangan membantu korban gempa. Menurut dia, penyaluran bantuan tidak boleh hanya difokuskan di pusat posko pengungsian, tetapi harus menyasar bagi warga yang mengungsi secara mandiri.

“Kami juga korban gempa, karena itu penyaluran bantuan harus merata. Apalagi pusat gempa itu ada di Nagekeo,” katanya.

Kompas.com beberapa kali menghubungi Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagekeo, Remigius Djago, untuk menanyakan perihal bantuan bagi korban gempa, tetapi belum mendapat konfirmasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *