PDI-P Nilai Pilpres dan Pileg Perlu Dipisahkan

Jakarta, Purna Warta – Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Said Abdullah menilai pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) perlu dipisahkan.

Menurutnya, pemisahan tersebut diperlukan agar masyarakat memiliki waktu yang lebih panjang untuk mengenal calon anggota legislatif maupun calon pemimpin yang akan dipilih.

Said mengatakan, pelaksanaan pilpres dan pileg dalam waktu yang berdekatan membuat perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Kondisi tersebut membuat calon anggota legislatif (caleg) dinilai kurang mendapat perhatian.

“Memang disadari dalam setiap kontestasi pilpres, pileg itu hampir tenggelam. Yang dominan selalu pilpres, yang dibaca rakyat selalu pilpres,” ungkap Said kepada awak media, termasuk Kompas.com, di Kompleks Parlemen Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Berkaca pada pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) serentak pada 2019 dan 2024, Said mengatakan rentang waktu yang berdekatan antara pilpres dan pileg membuat caleg kesulitan menjangkau masyarakat agar lebih mengenal calon yang mereka pilih.

Ketua Banggar DPR RI itu juga menyoroti efek ekor jas atau coattail effect, yakni pengaruh dukungan terhadap capres dan cawapres terhadap perolehan suara partai politik dalam pileg.

Menurut Said, efek tersebut belum terlihat signifikan terhadap partai politik.

“Padahal efek ekor jasnya juga nggak ada. Kecuali jas presiden aja calonnya yang pakai jas. Yang ke partai politik hampir tidak ada,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *