Jakarta, Purna Warta – Barang yang biasanya dianggap sampah tak bernilai justru berubah menjadi sumber penghasilan di tangan ibu-ibu Desa Jatiwangsan, Kecamatan Kemiri.
Melalui gerakan kreatif tim penggerak PKK, limbah rumah tangga kini disulap menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus memperkuat kemandirian warga.
Desa Jatiwangsan yang terletak di Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah menjadi contoh nyata bagaimana pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan dapat berjalan efektif.
Dengan jumlah penduduk sekitar 1.404 jiwa atau 486 kepala keluarga, desa ini berhasil membangun sistem pengelolaan sampah yang terorganisasi dan produktif.
Program ini dimulai dari kebiasaan sederhana yakni dengan mengumpulkan sampah rumah tangga. Warga membawa limbah mereka ke balai desa untuk ditimbang sebelum dipilah sesuai jenisnya.
“Dari proses ini, sampah yang sebelumnya hanya dibuang kini memiliki nilai ekonomi. Salah satu inovasi yang paling menonjol adalah pengolahan sampah plastik menjadi kerajinan bunga hias,” kata Ketua Tim Penggerak PKK Desa Jatiwangsan, Puspita, Senin (27/4/2026).
Produk ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki nilai jual. Bahkan, bunga-bunga hasil karya ibu-ibu PKK tersebut kerap digunakan sebagai dekorasi dalam berbagai acara, termasuk pernikahan dan kegiatan formal lainnya.
Sementara itu, sampah yang tidak dapat diolah secara kreatif tetap dimanfaatkan dengan cara dijual kepada pengepul. Hasil penjualan tersebut tidak masuk ke kantong pribadi, melainkan dikelola sebagai kas PKK. Dana ini kemudian digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari pertemuan rutin, perayaan Hari Kemerdekaan, hingga program pemberdayaan perempuan.
Tidak berhenti pada pengolahan sampah, PKK Desa Jatiwangsan juga mengembangkan unit usaha lain. Salah satunya adalah penyewaan peralatan gerabah untuk kebutuhan hajatan warga. Inisiatif ini terbukti mampu menambah pemasukan kelompok sekaligus membantu warga mendapatkan perlengkapan acara dengan biaya lebih terjangkau.
Aspek sosial juga menjadi bagian penting dari gerakan ini. Setiap tahun, ibu-ibu PKK rutin menggelar bazar pakaian layak pakai. Kegiatan ini didukung oleh warga Jatiwangsan yang merantau, termasuk yang berada di Yogyakarta.
“Pakaian yang terkumpul kemudian dijual dengan harga murah kepada masyarakat, biasanya menjelang Lebaran atau peringatan Hari Kemerdekaan,” katanya.
Dukungan dari pemerintah setempat turut memperkuat keberlanjutan program ini. Kehadiran ibu camat dalam pertemuan rutin PKK desa menjadi suntikan semangat bagi para anggota. Dorongan tersebut membuat ibu-ibu PKK semakin percaya diri untuk mengembangkan berbagai program yang berdampak langsung pada kebersihan lingkungan dan peningkatan ekonomi keluarga.
Ketua Tim Penggerak PKK Desa Jatiwangsan, Puspita, mengaku bangga dengan konsistensi dan semangat para anggotanya. Menurut dia, keterlibatan aktif ibu-ibu dalam kegiatan ini bukan hanya membantu menjaga lingkungan tetap bersih, tetapi juga membuka peluang tambahan bagi ekonomi rumah tangga.
“Kami ingin kegiatan ini terus berkembang. Harapannya, ibu-ibu PKK semakin mandiri dan mampu berkontribusi lebih besar bagi keluarga dan desa,” ujarnya.
Gerakan yang dijalankan di Desa Jatiwangsan membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak selalu menjadi beban. Dengan kreativitas dan kebersamaan, limbah rumah tangga justru bisa menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan. Lebih dari sekadar program lingkungan, inisiatif ini telah menjelma menjadi gerakan sosial yang memperkuat solidaritas warga.


