Jakarta, Purna Warta – Film animasi Merah Putih: One For All yang tayang di bioskop sejak 14 Agustus 2025, mendapat kritik keras dari penonton dan warganet. Bahkan, sebelum resmi dirilis, trailernya sudah menuai kontroversi di media sosial, di mana banyak yang mempertanyakan kualitasnya, mengingat anggaran produksinya dikabarkan mencapai Rp 6,7 miliar.
Baca juga: KPK Ungkap Dukungan DPR dalam Pengusutan Kasus Korupsi Kuota Haji 2024
Setelah penayangan, kritikan semakin deras, dan banyak warganet membandingkannya dengan film animasi lokal lainnya yang sukses, seperti Jumbo.
Film garapan Perfiki Kreasindo ini juga mendapat “serangan” di IMDb (Internet Movie Database), platform ulasan film populer. Hingga Selasa (19/8/2025), rating Merah Putih: One For All berada di angka 1 dari 10, menjadikannya salah satu film dengan skor terendah di situs tersebut.
Salah satu reviewer dengan nama pengguna imdbfan-4069471596 secara blak-blakan menyebut film ini sebagai “aib nasional.” Dalam ulasannya, ia menulis: “One For All, ya kita semua sepakat film ini pantas mendapatkan Satu. Tak perlu penjelasan, tonton saja trailernya. Mimpi buruk. Malah, menurut saya karya/tugas mahasiswa animasi semester awal jauh lebih baik daripada ini.”
Ia melanjutkan kritiknya dengan keras: “Film ini tampak belum selesai, bahkan tidak layak disebut storyboard. Animasi: Sangat Buruk, Efek Visual: Sangat Buruk, Pengisi Suara: Sangat Buruk, Poster Film: Bencana.”
Kritikan serupa juga datang dari akun dedekurniawan-58791, yang mengatakan bahwa film ini bahkan tidak layak disebut film. “Film ini buruk sekali. Animasi, suara, plot, dan kontroversi yang menyertainya semuanya benar-benar buruk, seperti sampah. Sebenarnya, film ini bahkan tidak pantas dikategorikan sebagai film. Lebih tepat disebut video brainrot yang seharusnya tidak pernah dirilis. Bagaimanapun, ini adalah film terburuk di dunia. Jika Anda manusia, percayalah ketika saya bilang film ini akan membuat Anda tidak nyaman,” tulisnya.
Baca juga: Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Bekasi, Terasa Hingga Jabodetabek
Film yang disutradarai oleh Endiarto dan Bintang ini sebenarnya memiliki premis patriotik. Ceritanya berfokus pada delapan anak dari berbagai daerah di Indonesia yang membentuk Tim Merah Putih untuk menjaga bendera pusaka menjelang upacara 17 Agustus. Konflik muncul ketika bendera tersebut hilang tiga hari sebelum upacara, memaksa mereka untuk bersatu dalam sebuah misi penyelamatan. Namun, tema ini tampaknya tidak cukup untuk menyelamatkan film dari banjir kritikan.


