HomeLainnyaSejarahSalahkah Pejuang Indonesia Bersikap Sadis pada Tentara Belanda?

Salahkah Pejuang Indonesia Bersikap Sadis pada Tentara Belanda?

PurnaWarta — Ada fakta yang menarik disebutkan oleh penulis KasKus mengenai tentara Indonesia di jaman penjajahan Belanda. Ia berhasil menemukan fakta bahwa tentara dan pejuang kemerdekaan Indonesia sangat gigih dan tak pandang ampun pada penjajahan. Hal itu ia ungkapkan dalam kata brutal dan sadis.

Sebelum membahas hal ini, kita berdo’a sejenak untuk para pahlawan bangsa ini yang sudah bersusah payah mempertahankan kemerdekaan.

Semoga tak ada lagi penjajahan, tak ada lagi peperangan dan tak ada lagi kisah kelam di bumi pertiwi yang sangat kita cintai ini. Untuk itu jangan sampai kita mudah dipecah belah oleh para politikus, mereka lebih banyak mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok baru lah mengurusi wong cilik kalau belum mundur dari jabatan dan masih berkuasa. Tapi kita harus mendukung para negarawan, yang berkuasa dan tulus untuk membangun negeri tanah lahirnya.

Dikutip dari Kaskus dalam tema Pejuang Indonesia di Mata Belanda, Pertama ia berpesan untuk Open Minded. Pembahasan ini sangat sensitif, jadi jernihkan pikiran dan open minded dalam membaca thread ini. Terkadang perang tidak seperti anak sekolah tawuran, tapi lebih dari itu tersimpan dendam, tersimpan rasa benci hingga tega menghabisi seseorang tanpa ampun dan bangga sambil pesta pora dikala memenangkan pertarungan.

Kita akan melihat kisah para pejuang Indonesia dimata orang Belanda, mereka memberikan gambaran bahwa para pejuang Indonesia itu sungguh kejam, sadis dan bengis.

Tidak elok kalau membicarakan sejarah, dan berkata hal yang sensitif, tapi tidak mengutip suatu berita yang mendukung argument yang akan kita bahas kali ini. Maka, ini kutipan pendukung apa yang dirasakan oleh Belanda.

Dalam film dokumenter Pia van der Molen yang berjudul Het Archief van Tranen (Arsip Airmata) hal ini digambarkan sangat jelas. Film dokumenter itu menayangkan pembunuhan massal terhadap orang-orang Belanda oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia yang digambarkan sangat kejam, tidak berprikemanusiaan, dan biadab.

Sebanyak 3500 warga Belanda berdarah campur Indonesia-Eropa dibunuh secara sadis dengan golok dan bambu runcing. Sekitar 4000 perempuan dan anak-anak Belanda dibiarkan telantar menderita kelaparan, penyakit, dan kelelahan. Sebanyak 16.000 warga Belanda dikabarkan hilang, termasuk warga Tionghoa yang berkewarganegaraan Belanda, dan selalu menganggap derajatnya lebih tinggi orang pribumi hilang ditelan bumi. Jasad mereka tidak pernah ditemukan.

Apa yang terjadi ketika para pejuang kemerdekaan Indonesia bergerak serentak, hingga menghabisi keturunan Belanda di bumi nusantara?

Sudah pasti rasa ketidak adilan yang semakin memuncak, penindasan yang mereka terima dari mereka yang berafiliasi dengan Belanda. Sistem feodal yang menginjak-injak harga diri, dan selalu dijadikan kasta kelas bawah oleh para sinyo atau keturunan blasteran Indo-Belanda.

Maka, yang dilakukan oleh para pejuang terhadap orang-orang Belanda tidak hanya membunuh namun melakukan mutilasi. Tidak bermaksud membuka luka lama, tapi itu bagian dari sejarah Indonesia tentang kerusuhan Sampit apa yang terjadi? Mutilasi kerap dilakukan, bahkan tingkah laku bar-bar masyarakat Indonesia juga ditunjukkan pada 1998 masa kejatuhan orde baru.

Ras tertentu menjadi musuh bersama di kala itu, dan terjadilah tindakan keji secara massal ini juga yang diceritakan oleh film dokumenter Belanda tersebut.

Film dokumenter “Archief van Tranen” mengisahkan tentang sisi lain dari revolusi di Surabaya. Film ini dibuat oleh Pia van der Molen dan Michiel Praal. Yang dimaksud sisi lain adalah terjadinya pembunuhan-pembunuhan diluar batas kemanusiaan yang dilakukan oleh kelompok pejuang Indonesia. Mulai pembunuhan di alun-alun Sidoarjo yang menimpa ayah dari Wieteke van Dort, penyanyi lagu terkenal Geef Mij Maar Nasi Goreng, pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di Simpangsche Societeit ( kini Balai Pemuda ), hingga insiden Gubeng Transport dimana konvoi truk Inggris yang berisi wanita dan anak-anak disergap disekitar pertigaan Sono Kembang- Jl jend Sudirman.

Setidaknya sepenggal kisah ini memberikan bahan renungan, perang hanya menimbulkan rasa benci yang teramat dalam. Mayat bergeletakan, darah tertumpah, tak ada lagi keceriaan yang hanya benci dan saling membunuh.

Bahkan dalam eksekusi musuh terdapat tindakan keji diluar batas, hampir di semua wilayah perang sering kejadian. Baik itu perkosaan, penindasan, hingga membunuh dengan nuklir seperti yang dilakukan Amerika kepada Jepang itu membawa penderitaan yang sangat luar biasa.

Apakah manusia di bumi akan terus berperang? Sepertinya akan selalu seperti itu, demi sebuah ambisi dan kekuasaan mereka rela menjadikan rakyat sebagai tumbal untuk keegoisan pemimpinnya.

Yang jadi pertanyaan kenapa Presiden tidak pernah ikut dalam medan peperangan? Hanya bisa cuap-cuap ganyang itu dan ini, tapi selalu berada di balik jalan perundingan?

Sedangkan yang mati dan bersimbah darah siapa? Mereka yang mati dapat apa? Apakah surga atau neraka? Sedangkan pemimpin tentu mendapatkan kekuasaan, harta dan juga disenangi wanita. Hmm, adakah yang bisa menjawab pertanyaan nakal ini.

Terima kasih yang sudah membaca thread ini sampai akhir, bila ada kritik silahkan disampaikan dan semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat dan merdeka

Must Read

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eight − 2 =