HomeLainnyaOpini & CeritaWahai Pemuda, Jangan Lupakan Kitab Sucimu (Part 1)

Wahai Pemuda, Jangan Lupakan Kitab Sucimu (Part 1)

Engkau harus mengetahui bahwa, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya  engkau hidup di suatu zaman ketika orang-orang yang mengaku berada di jalan kebenaran sangat sedikit jumlahnya… kaum muda mereka adalah para pelaku dosa dan ulama-ulama mereka adalah para hipokrit” khalifah Ali bin Abi Thalib kwz.

Purna Warta — Pemuda dengan tuntutan zaman sekarang, membuat mereka tidak mengenal identitas dirinya. Identitas sebagai tombak untuk menopang agama. Tapi mereka sebagai umat yang mengenal agama sudah  melalaikan suatu hal yang sangat penting, salah satunya mereka melalaikan kitab sucinya sendiri.

Mungkin sangat sedikit dari penduduk Indonesia  khususnya remaja yang memperhatikan dan mengkaji kitab mereka, terkecuali bagi mereka yang mengkhususkan sendiri mempelajari kitab agama mereka. Mereka masih memperhatikan dan masih punya waktu untuk mempelajari kitab agama mereka.

Sekarang kita lihat sikap remaja masa sekarang, mereka menganggap diri mereka sebagai muslim, tapi kita patut mempertanyakan kemusliman mereka. Dengan berbagai tantangan zaman masihkah seorang pemuda muslim yang tidak ada rasa dalam dirinya untuk mempertahankan agamanya sendiri, masihkah bisa bertahan ?

Pergaulan yang sangat begitu bebas dikalangan remaja, memungkinkan remaja untuk melupakan kitab agamanya.  Mari kita persempit bahasan ini kepada agama Islam. Remaja atau kita sebut saja pemuda-pemudi islam, yang waktu dulu ketika zaman Rasulullah saw mereka menjadi pedang bagi islam.

Mereka adalah kerang yang bisa menyimpan dan menjaga  kilau mutiara islam. Mereka dengan segenap kekuatan dirinya mereka menjaga dan menjalankan syariat islam. Menghidupkan hukum-hukum islam dalam kehidupan mereka.

Tapi, apa yang terjadi terhadap pemuda-pemudi zaman sekarang, terlebih khusus di Negara Indonesia.

Pembicaraan tentang al-Quran di kalangan para pemuda-pemudi sepertinya sangat jarang sekali bahkan nyaris tidak pernah terbersit dalam pikiran mereka.  Coba kita lihat kenyataannya, di dalam perkumpulan para pemuda-pemudi sekarang saat mereka memperbincangkan sesuatu hal, kalau tidak tentang fashion, sepak bola, film, atau juga tentang karir mereka. Apalagi ditambah sekarang sedang demam sepak bola Europa, seuatu yang mustahil mereka tidak memperbincangkannya dan al-Qur’an sudah kalah banding dengan sepak bola.

Padahal, hakikatnya manusia itu untuk mencari kesempurnaan, iya kan? Mereka bekerja setiap hari, mereka belajar terus menerus untuk mendapatkan kesempurnaan. 

Mereka tidak menyadari ataukah memang tidak mengetahui bahwa mereka mempunyai panduan  Ilahi yang sangat mampu mengantarkan manusia menggapai tujuannya yaitu kesempurnaan.

Baca juga: Sejarah Sayidina Ali bin Abi Thalib Menulis Ilmu Tata Bahasa Arab

Must Read

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × four =