Sana’a, Purna Warta – Rabu malam (1/5), Dewan Politik Tertinggi Yaman mengumumkan bahwa perpanjangan gencatan senjata tunduk pada komitmen implementasi semua kewajiban di bawah periode gencatan senjata sebelumnya dan kompensasi atas pelanggaran.
Menurut Al-Masirah, pertemuan Dewan Politik Tertinggi Yaman yang diketuai oleh Mehdi Al-Mashat diadakan di Sana’a.
Baca Juga : Serangan Turki di Pinggiran Ayn Al-Arab di Suriah Utara
Menurut laporan tersebut, Dewan Politik Tertinggi Yaman pada pertemuan itu menekankan bahwa keputusan untuk memperpanjang gencatan senjata untuk periode yang baru tunduk pada implementasi semua kewajiban periode gencatan senjata sebelumnya dan kompensasi atas kerugian yang diakibatkan oleh ketidakpatuhan terhadap ketentuan-ketentuannya terutama mengenai penerbangan pesawat atau kapal yang membawa bahan bakar.
Sebelumnya, juru bicara Ansarullah Mohammad Abdul Salam menekankan bahwa koalisi Saudi tidak mematuhi persyaratan gencatan senjata Yaman.
Dewan Politik Tertinggi Yaman menambahkan: Republik Yaman tidak pernah menginvasi suatu negara dan Sana’a selalu menawarkan inisiatif perdamaian dan mendukung semua tuntutan perdamaian.
Baca Juga : Pukulan Berat Tentara Suriah terhadap Teroris
Pada pertemuan itu ditekankan bahwa Sana’a mengabdikan upayanya untuk menjamin hak penuh dan lengkap rakyat Yaman, dan jika gagal mencapainya melalui perdamaian, ia akan mendapatkan hak-hak rakyat Yaman (dari penjajah) dengan paksa.
Dewan Politik Tertinggi Yaman juga mengatakan bahwa koalisi agresor dan tentara bayarannya bertanggung jawab atas penjarahan sumber daya alam Yaman, yang terbaru adalah kedatangan kapal tanker raksasa di pelabuhan Al-Shahar untuk kedua kalinya dalam dua bulan terakhir untuk menjarah lebih dari dua juta barel minyak Yaman.
Dewan Politik Tertinggi Yaman juga mengumumkan pada pertemuan yang dipimpin oleh Mehdi al-Mashat bahwa perpanjangan gencatan senjata tergantung pada evaluasi tahap saat ini.
Baca Juga : Pemerintah Yaman yang Mengundurkan Diri Klaim telah Menyita Kapal Iran
Pada tanggal 26 Maret 2015, Arab Saudi melancarkan serangan besar-besaran terhadap Yaman, negara Arab termiskin, dalam bentuk koalisi beberapa negara Arab, termasuk UEA, dengan bantuan dan lampu hijau dari Amerika Serikat dan dukungan dari rezim Zionis Israel.
Bertentangan dengan harapan Saudi, serangan mereka menghantam kubu perlawanan kuat rakyat Yaman, dan setelah tujuh tahun pertahanan dan serangan balik Yaman yang menyakitkan sampai jauh ke dalam wilayah Saudi, terutama fasilitas Aramco, oleh karena itu Riyadh terpaksa menerima gencatan senjata dengan harapan keluar dari rawa perang Yaman ini.


