New York, Purna Warta – Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk anak-anak, UNICEF, mengatakan bahwa pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya empat anak dalam waktu lima hari di Jalur Gaza.
UNICEF melaporkan pada Jumat bahwa anak-anak tersebut berusia antara 2 dan 16 tahun dan tewas dalam serangkaian serangan terpisah, termasuk seorang anak yang meninggal akibat luka-luka yang dideritanya dalam serangan pada pekan sebelumnya.
“Sedikitnya empat anak dilaporkan tewas dan banyak lainnya terluka di Jalur Gaza selama lima hari terakhir. Serangan juga menghancurkan sebuah gudang yang menyimpan pasokan nutrisi dan menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas air yang didukung UNICEF, yang semakin menghambat akses terhadap layanan esensial yang menjadi tumpuan anak-anak dan keluarga,” kata UNICEF di situs webnya.
“Anak-anak yang dilaporkan tewas tersebut mencakup dua anak laki-laki berusia dua dan empat tahun dalam serangan yang terpisah, seorang anak perempuan berusia 10 tahun yang terkena tembakan dari darat saat berada di dalam tendanya, serta seorang anak laki-laki berusia 16 tahun yang meninggal akibat luka parah yang dideritanya dalam serangan sebelumnya,” tambahnya.
UNICEF juga mengatakan bahwa pada 25 Agustus, tiga anak berusia delapan, 10, dan 17 tahun dilaporkan terkena tembakan peluru tajam, sementara dua anak berusia 11 tahun terkena serpihan akibat serangan. Mereka mengalami “cedera yang mengubah kehidupan.”
UNICEF mengatakan lima anak lainnya berusia 8 hingga 17 tahun terkena tembakan atau serpihan pada Selasa dan mengalami luka serius, berdasarkan pernyataan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
UNICEF menambahkan bahwa gudang milik salah satu mitranya juga mengalami kerusakan parah akibat serangan, yang menghancurkan pasokan nutrisi senilai lebih dari 770.000 dolar AS yang diperuntukkan bagi lebih dari 45.000 anak, perempuan hamil, dan ibu menyusui.
Pada Senin, sebuah sumur air dan fasilitas desalinasi yang didukung UNICEF dan melayani lebih dari 4.000 orang di Deir al-Balah mengalami kerusakan parah.
Mitra-mitra UNICEF kini mengangkut air menggunakan truk dari sumber alternatif untuk memenuhi kebutuhan warga Palestina yang terdampak.
“Anak-anak terus terbunuh dan terluka, sementara mereka yang selamat menyaksikan layanan dan pasokan esensial yang menjadi tumpuan mereka dihancurkan,” kata Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Edouard Beigbeder.
“Selain hilangnya nyawa, kehancuran pasokan vital dan kerusakan terhadap layanan esensial terus memperparah penderitaan anak-anak dan keluarga yang sudah berjuang untuk bertahan hidup.”
Akses terhadap air yang aman dan mencukupi sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan anak-anak, terutama selama bulan-bulan musim panas yang terik.
Saat ini, dengan 70 persen infrastruktur air dan sanitasi Gaza hancur akibat serangan Israel, sebanyak 63 persen penduduk tidak dapat memperoleh air minum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Badan PBB untuk anak-anak tersebut menyerukan penghormatan penuh terhadap hukum humaniter internasional dan hukum hak asasi manusia, termasuk perlindungan terhadap kehidupan dan hak-hak anak. UNICEF juga menyerukan agar infrastruktur sipil serta layanan esensial yang sangat penting bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan anak-anak dilindungi, serta agar akses kemanusiaan yang cepat, aman, dan tanpa hambatan dapat diberikan.


