Tentara Perempuan Zionis Tewas dalam Serangan Drone Hizbullah

Perempuan Zionis

Al-Quds, Purna Warta – Media-media rezim Zionis melaporkan tewasnya seorang tentara perempuan Israel serta terluka dua tentara lainnya akibat ledakan drone bunuh diri yang diluncurkan oleh Hizbullah di wilayah utara Palestina pendudukan.

Media berbahasa Ibrani “Hadashot Hamot” menyatakan bahwa militer rezim Zionis telah mengizinkan publikasi kabar kematian Sersan Rotem Yanai, anggota Batalion Rotem yang berada di bawah Brigade Givati.

Menurut laporan tersebut, tentara Zionis itu tewas pada Rabu setelah sebuah drone bunuh diri yang diluncurkan Hizbullah menghantam pangkalan militer Israel di permukiman “Shomera” di utara Palestina pendudukan.

Sumber-sumber berbahasa Ibrani juga melaporkan bahwa dua anggota unit darurat kibbutz (permukiman Zionis) “Goren” mengalami luka-luka akibat ledakan drone lainnya.

Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di front utara antara Israel dan Hizbullah Lebanon. Dalam beberapa bulan terakhir, wilayah perbatasan Lebanon–Palestina pendudukan terus menyaksikan saling serang menggunakan roket, artileri, dan drone tempur.

Media Israel sebelumnya mengakui bahwa serangan-serangan drone Hizbullah telah menimbulkan tantangan besar bagi sistem pertahanan udara Israel, termasuk sistem Iron Dome, terutama karena penggunaan drone berukuran kecil dengan kemampuan terbang rendah yang sulit dideteksi radar.

Di sisi lain, Hizbullah menegaskan bahwa operasi-operasinya dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina di Gaza dan respons terhadap serangan militer Israel di Lebanon selatan. Kelompok tersebut berulang kali menyatakan akan terus melancarkan operasi selama agresi Israel terhadap Gaza masih berlangsung.

Sejumlah laporan media Israel juga menyebutkan bahwa meningkatnya serangan di wilayah utara telah memaksa ribuan pemukim Zionis meninggalkan kawasan perbatasan dengan Lebanon. Pemerintah Israel menghadapi tekanan domestik yang semakin besar terkait keamanan wilayah utara dan meningkatnya kerugian militer di berbagai front konflik.

Sementara itu, para analis keamanan Israel memperingatkan bahwa eskalasi lebih luas dengan Hizbullah dapat membuka front perang besar di Lebanon, terutama mengingat kemampuan rudal dan drone Hizbullah yang disebut jauh lebih maju dibandingkan konflik tahun 2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *