Tentara Israel Memalsukan Penculikan Warga Palestina untuk Memeras Keluarga Korban

Kidnaping

Al-Quds, Purna Warta – Militer Israel telah membuka penyelidikan internal terhadap seorang prajurit yang dituduh merekayasa penculikan seorang tahanan Palestina dengan tujuan memeras uang dari keluarga korban di wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Prajurit tersebut, yang bertugas sebagai sipir penjara di unit polisi militer, ditangkap setelah keluarga Palestina itu melaporkan dugaan penculikan serta tuntutan uang tebusan untuk pembebasan kerabat mereka kepada kepolisian Israel, demikian dilaporkan Radio Militer Israel pada Minggu.

Menurut laporan tersebut, prajurit itu mengambil foto tahanan Palestina muda tersebut dan mengirimkannya kepada keluarganya, sambil secara palsu mengklaim telah menculik korban dan menuntut sejumlah uang sebagai syarat pembebasan.

Tahanan tersebut sebelumnya ditangkap saat berupaya memasuki wilayah pendudukan tanpa izin dan ditahan di sebuah fasilitas penahanan militer dekat permukiman Gush Etzion di Tepi Barat, lokasi di mana penculikan palsu itu diduga direkayasa.

“Prajurit dari unit polisi militer tersebut memalsukan insiden penculikan untuk mendapatkan uang dari keluarga Palestina,” demikian bunyi laporan itu.

Pada awalnya, otoritas Israel mengira insiden tersebut merupakan bagian dari peningkatan kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat. Namun, penyelidikan lanjutan terhadap ponsel tahanan mengungkap bahwa ia masih berada dalam tahanan Israel, sehingga fokus penyelidikan dialihkan kepada prajurit yang terlibat.

Tersangka saat ini tengah menjalani pemeriksaan, sementara unit penyelidikan internal militer Israel telah meluncurkan penyelidikan resmi atas kasus tersebut.

Insiden ini terjadi di tengah lonjakan tajam kekerasan militer dan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki.

Sejak dimulainya perang genosida Israel di Gaza pada 7 Oktober 2023, pasukan Israel dan para pemukim secara signifikan meningkatkan serangan di seluruh Tepi Barat dan al-Quds yang diduduki. Kelompok-kelompok pembela hak Palestina telah mendokumentasikan ribuan penggerebekan, penangkapan massal, penghancuran rumah, serta serangan pemukim.

Sepanjang tahun 2025 saja, para pemukim Israel melakukan lebih dari 4.700 serangan di Tepi Barat, yang mengakibatkan kematian, luka-luka, serta pengusiran paksa terhadap seluruh komunitas Badui.

Tahanan Palestina yang menjadi sasaran dugaan pemerasan tersebut merupakan bagian dari lebih dari 9.000 warga Palestina yang saat ini ditahan di penjara-penjara Israel.

Laporan terbaru dari organisasi hak asasi manusia Israel, B’Tselem, mendokumentasikan praktik penyiksaan fisik dan psikologis yang meluas terhadap para tahanan Palestina.

“Rezim Israel telah mengubah penjara-penjaranya menjadi jaringan kamp penyiksaan bagi warga Palestina, sebagai bagian dari serangan terkoordinasi yang bertujuan menghancurkan masyarakat Palestina secara kolektif,” ujar Yuli Novak, Direktur Eksekutif B’Tselem.

“Genosida di Gaza dan pembersihan etnis di Tepi Barat merupakan manifestasi paling nyata dari kebijakan ini,” tambahnya.

Menurut data Palestina, lebih dari 100 tahanan Palestina telah meninggal dunia dalam tahanan Israel sejak Oktober 2023, dengan banyak tahanan asal Gaza masih mengalami penghilangan paksa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *