al-Quds, Purna Warta – Wartawan syahid Hossam Zeidan, seorang warga keturunan Palestina, lahir pada tahun 1975. Sepanjang hidup dan karier profesionalnya, ia aktif berpindah dan bekerja di antara Yordania, Lebanon, Suriah, dan Iran.
Seluruh perhatian dan pemikiran Hossam Zeidan tercurah pada perjuangan Palestina. Ia memiliki keyakinan kuat terhadap peran kata-kata dan gambar dalam menghadapi pendudukan Zionis serta mengungkap berbagai kejahatan yang dilakukan terhadap rakyat Palestina.
Zeidan meraih gelar sarjana di bidang media dan komunikasi, lalu mendedikasikan hidupnya untuk peliputan berita di berbagai kawasan paling tidak stabil dan berbahaya di dunia.
Pada tahun 2009, ia bergabung dengan saluran berita Al-Alam sebagai reporter. Sejak tahun 2011, bersamaan dengan dimulainya perkembangan situasi di Suriah, ia melanjutkan tugasnya sebagai koresponden jaringan tersebut di negara itu.
Dalam berbagai laporannya, Zeidan meliput beragam perkembangan politik dan kemanusiaan. Ia menyampaikan kepada publik gambaran penderitaan warga sipil serta dampak perang dan pengepungan yang dialami masyarakat.
Salah satu peliputan paling menonjol dalam karier jurnalistiknya adalah saat melaporkan gempa bumi dahsyat yang melanda Suriah pada tahun 2023. Ia termasuk di antara wartawan pertama yang tiba di wilayah terdampak bencana dan menjelaskan kepada dunia luas besarnya tragedi kemanusiaan serta penderitaan para korban gempa.
Zeidan terus bertugas sebagai koresponden Al-Alam di Suriah hingga terjadinya perubahan pemerintahan di negara tersebut pada akhir tahun 2024. Setelah itu, pada tahun 2025, ia pindah ke kantor pusat Al-Alam di Teheran untuk melanjutkan aktivitas jurnalistiknya.
Kemudian, pada awal tahun 2026, ia kembali ditugaskan ke Lebanon guna meliput perkembangan politik dan situasi lapangan, terutama di tengah meningkatnya ketegangan yang dipicu oleh rezim Zionis.
Akhirnya, pada 28 Mei 2026 (6 Khordad 1405), Hossam Zeidan gugur dalam serangan udara yang dilakukan rezim Zionis terhadap Kota Sidon (Saida) di Lebanon selatan.
Insiden tersebut menambah panjang daftar kejahatan yang dituduhkan kepada rezim Zionis terhadap para jurnalis dan warga sipil; tindakan yang disebut bertujuan menghalangi penyampaian fakta serta membungkam suara penderitaan berbagai bangsa di hadapan dunia.
Namun, bukan hanya dirinya yang menjadi sasaran dampak serangan tersebut. Dua bulan sebelum wafatnya, sejumlah kerabat dekat Zeidan juga dilaporkan tewas dalam serangan udara yang dilakukan pasukan pendudukan Zionis di berbagai wilayah Lebanon.
Semasa hidupnya, Zeidan menulis banyak artikel mengenai Palestina dan berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam di sejumlah media cetak.
Ia memadukan kerja jurnalistik lapangan dengan misi intelektual dan pemikiran. Zeidan selalu meyakini bahwa:
“Media perlawanan bukan sekadar menyampaikan berita tentang peristiwa yang terjadi, melainkan juga mendokumentasikan sejarah demi membela hak-hak bangsa-bangsa yang tertindas.”


