Al-Quds, Purna Warta – Para demonstran Zionis di Tel Aviv dengan lantang menyebut bahwa Netanyahu takut diadili, menyuruhnya untuk malu pada diri sendiri, serta menyerukan agar dia segera mundur dari dunia politik, menyatakan kekalahan pada tanggal 7 Oktober 2023 lalu.
Sejak pecahnya perang di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, yang dipicu oleh operasi kejutan “Banjir Al-Aqsa” yang dilancarkan oleh pasukan Palestina, militer rezim Zionis telah menerima pukulan telak dan sangat mahal, baik secara psikologis maupun di medan perang.
Pada hari-hari awal perang, lebih dari 1.200 warga Zionis tewas, dan ratusan lainnya ditawan oleh para pejuang Palestina. Ini adalah kekalahan paling memalukan dan belum pernah terjadi sebelumnya bagi sistem intelijen dan keamanan rezim penjajah sejak berdirinya secara ilegal pada tahun 1948.
Setelah itu, dalam upaya darat yang diluncurkan oleh rezim penjajah — yang terkenal sebagai “rezim pembantai anak-anak” — untuk membebaskan tawanan mereka, perlawanan Palestina melalui perang gerilya, jaringan terowongan rumit, penyergapan akurat, dan ledakan yang terencana, berhasil menghantam unit-unit militer Israel hingga babak belur.
Kini, setelah lebih dari satu setengah tahun perang berlangsung, sumber-sumber Zionis sendiri mengakui bahwa ratusan tentaranya tewas. Namun, data tak resmi (yang belum disensor) menunjukkan bahwa angka korban tewas dan luka-luka sebenarnya jauh lebih besar.
Selain itu, perlawanan Palestina juga berhasil menghancurkan atau merebut puluhan tank Merkava, kendaraan lapis baja, drone, dan sistem pengintaian canggih milik rezim Zionis.
Sekarang, banyak pengamat militer menilai bahwa perlawanan Palestina telah berhasil membalikkan peta pertempuran, menyeret militer Zionis ke dalam perang jangka panjang yang melelahkan — perang yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kemenangan bagi para penjajah.


