Al-Quds, Purna Warta – Seorang Reservis Israel telah mengakhiri hidupnya setelah mengalami tekanan psikologis berat akibat keterlibatannya dalam operasi yang digambarkan sebagai genosida terhadap warga Jalur Gaza.
Menurut harian Israel Hayom, seorang Reservis berusia 28 tahun dari Brigade Givati meninggal bunuh diri pada Kamis, setelah mengalami trauma mental intens yang terkait dengan pengalamannya selama operasi darat di Gaza.
Thomas Edzgoscus dilaporkan bergulat dengan “pertempuran mental” dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) akibat keterlibatannya dalam invasi darat tersebut.
Ia menuliskan di media sosial bahwa dirinya “tak bisa lagi melanjutkan hidup” dan merasa “hancur dan tersesat.”
“Saya tak sanggup lagi, saya adalah kehancuran dan kerusakan… Saya melakukan hal-hal yang tak bisa dimaafkan, dan saya tak bisa hidup lagi dengan itu.”
“Tidak ada yang mengerti saya. Ada iblis di dalam diri saya yang mengejar sejak 7 Oktober.”
Data resmi Israel yang dirilis pada akhir Oktober menunjukkan 279 percobaan bunuh diri di kalangan personel militer dalam 18 bulan terakhir, dengan tinjauan internal terbaru mengindikasikan banyak kasus terkait kondisi traumatis yang dihadapi pasukan pendudukan di Gaza.
Sejak perang dimulai, ribuan tentara Israel telah didiagnosis dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Serangkaian temuan mengungkap bahwa sebagian besar kasus bunuh diri terjadi akibat paparan berkepanjangan terhadap pertempuran, pengalaman traumatis di medan perang, serta tekanan mental setelah kehilangan rekan-rekan mereka.
Terlepas dari upaya militer Israel untuk menyensor laporan tentang kasus bunuh diri dan kondisi yang melatarinya, bukti-bukti terus bermunculan mengenai peningkatan tajam kasus tersebut. Sejumlah media bahkan menyebutkan bahwa angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi dari yang dilaporkan.
Militer Israel dilaporkan memakamkan beberapa tentara tersebut tanpa upacara militer atau pengumuman publik, dalam upaya menutupi skala krisis yang tengah terjadi.
Dalam beberapa bulan terakhir, kekurangan personel yang semakin serius mendorong militer Israel memanggil kembali tentara yang telah didiagnosis dengan PTSD. Para pengkritik menilai bahwa rezim Israel berulang kali mengirim lebih banyak tentara ke Gaza untuk bertempur di area yang sama tempat pertempuran sebelumnya telah berlangsung.
Baca juga: Perang Dingin Arab Saudi-UAE di Hadramaut, Yaman: Amerika dan Inggris Terlibat
Laporan-laporan tersebut menyoroti krisis kesehatan mental yang lebih dalam di tubuh militer Israel, mengungkap bahwa ribuan tentara telah mencari bantuan di klinik kesehatan mental militer atau psikolog lapangan.
Sementara itu, situasi kemanusiaan di Gaza tetap kritis. Sejak awal perang pada Oktober 2023, lebih dari 70.000 warga Palestina—kebanyakan perempuan dan anak-anak—telah tewas, dan hampir 171.000 lainnya terluka.
Akses terhadap pasokan penting bagi 2,4 juta penduduk Gaza terus sangat dibatasi oleh Israel, meskipun ada gencatan senjata yang rapuh sejak Oktober. Sementara itu, sejak gencatan senjata dimulai, pasukan Israel telah menewaskan lebih dari 350 warga Palestina di Gaza.


