Peningkatan Pembatasan dan Serbuan Pasukan Pendudukan di Tepi Barat, dari Jenin hingga Al-Quds

Jenin

Al-Quds, Purna Warta – Koresponden Al-Alam dari Jenin melaporkan bahwa di tengah meningkatnya kehadiran militer Israel di Tepi Barat, pembatasan pergerakan, penutupan jalan, serbuan ke berbagai wilayah, serta penangkapan warga Palestina terus berlangsung.

Baca juga: Pesawat Netanyahu Alihkan Rute karena Khawatir Protes di New York

Laporan tersebut menyebutkan adanya sebuah jalan lingkar di sebelah timur Jenin. Di lokasi tersebut, pasukan Israel memasang gerbang-gerbang besi sehari setelah Sami Zawaideh, seorang pemuda yang mengungsi dari Kamp Pengungsi Jenin, tewas ditembak.

Menurut koresponden Al-Alam, Zawaideh ditembak oleh seorang tentara Israel ketika berada di dalam mobilnya dengan alasan bahwa ia diduga hendak melakukan aksi penabrakan menggunakan kendaraan.

Laporan dari Jenin selanjutnya menyebutkan bahwa Israel, militernya, serta berbagai institusinya kini memusatkan perhatian pada Tepi Barat dan berupaya melakukan Yudaisasi terhadap berbagai aspek kehidupan Palestina. Situasi yang berlangsung di Jenin mencakup pemukiman kembali para pemukim Israel dan pembangunan permukiman baru, disertai pemberlakuan berbagai pembatasan, antara lain pemasangan gerbang dan penutupan jalan di sejumlah wilayah yang sebelumnya telah memiliki permukiman lama.

Langkah-langkah tersebut juga disertai operasi penghancuran serta pencegahan akses para petani Palestina menuju lahan pertanian mereka.

Sementara itu, di kota Beit Doqqu di barat laut Al-Quds (Yerusalem) yang diduduki, operasi militer memasuki hari kedua berturut-turut. Operasi tersebut dimulai setelah seorang pemukim Israel tewas dalam penembakan di dekat permukiman Halamish, di barat laut Ramallah.

Menurut sumber-sumber lokal, kota tempat pelaku aksi tersebut berasal kini menjadi lokasi serbuan dan penangkapan secara luas. Pasukan pendudukan telah menutup akses masuk ke kota tersebut dan juga berencana menghancurkan rumah pelaku aksi.

Koresponden Al-Alam selanjutnya menjelaskan:

“Apa yang terjadi di sebelah barat Ramallah telah menimbulkan serangkaian konsekuensi dan perubahan. Meskipun pasukan pendudukan menargetkan wilayah timur Ramallah, termasuk Turmus Ayya, Al-Mughayyir, dan Kafr Malik yang merupakan bagian dari desa-desa di timur Ramallah, respons Palestina justru terjadi di sebelah barat Ramallah. Oleh karena itu, meskipun aksi tersebut bersifat individual, menurut sebagian pihak, aksi itu merupakan respons terhadap berbagai operasi sebelumnya, khususnya setelah penembakan hingga tewasnya Sami Zawaideh, pemuda Palestina tersebut, di dekat sebuah pos pemeriksaan yang dilengkapi penghalang jalan di Kafr Qaddum.”

Di sisi lain, pada tingkat politik Israel, Benjamin Netanyahu telah memerintahkan penghancuran rumah pelaku aksi di Halamish. Ia juga berjanji bahwa pasukan Israel di Tepi Barat akan diperkuat serta tindakan penutupan wilayah dan penangkapan akan ditingkatkan.

Baca juga: Hidup di Bawah Bayang-Bayang “Garis Kuning”: Pengungsi Gaza Berlindung di Pemakaman

Sementara itu, Itamar Ben-Gvir, menteri Israel yang dikenal dengan sikap garis kerasnya, menyerukan agar pelaku aksi tersebut dijatuhi hukuman mati. Ia mengklaim bahwa kasus tersebut merupakan kasus pertama yang dapat dijadikan dasar untuk menerapkan undang-undang hukuman mati.

Bagaimanapun, dari Jenin hingga Al-Quds, Tepi Barat terus berada dalam situasi yang ditandai oleh serbuan, penutupan jalan, penangkapan, serta kehadiran militer Israel dalam jumlah besar. Perkembangan dalam beberapa jam mendatang masih dapat diwarnai oleh peningkatan ketegangan lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *