Al-Quds, Purna Warta – Pejabat medis Palestina melaporkan bahwa dua anak Palestina yang mengalami kekurangan gizi parah kembali meninggal dunia di Jalur Gaza, wilayah yang telah menderita akibat perang genosida selama 21 bulan oleh Israel, disertai dengan taktik kelaparan sistematis yang diberlakukan oleh rezim Zionis.
Pada Selasa, pejabat medis di Gaza mengonfirmasi bahwa dua anak Palestina; Yousef al-Safadi, seorang anak dari wilayah utara, serta Abdul Hamid al-Ghalban dari selatan, tepatnya di Kota Khan Yunis, meninggal dunia akibat kelaparan.
Para aktivis pro-Palestina dan pegiat hak asasi manusia menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini, menyatakan bahwa tubuh anak-anak tersebut tidak sanggup bertahan hidup di tempat di mana “makanan telah dijadikan sebagai senjata.”
Pernyataan tersebut merujuk pada langkah rezim Israel sejak bulan Mei lalu, yang semakin memperketat blokade mematikan yang telah berlangsung sejak tahun 2007 atas Jalur Gaza—langkah yang oleh para pengamat dinilai sebagai upaya untuk memaksimalkan jumlah korban jiwa.
Para dokter di Gaza melaporkan bahwa rumah sakit-rumah sakit di wilayah pesisir tersebut, yang telah hancur akibat bulan-bulan pengepungan dan pengeboman, kini kewalahan menangani kasus-kasus kekurangan gizi.
Ratusan anak-anak, orang tua, dan lansia berdatangan setiap hari, sebagian besar dalam keadaan hampir tak sadarkan diri—bahkan ada yang tidak mampu berbicara.
Para tenaga medis melaporkan gejala kelaparan akut yang memilukan, termasuk pasien yang lupa nama mereka sendiri dan tiba-tiba roboh karena kelelahan di tengah berbicara.
Menurut UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi Palestina), lebih dari 17.000 anak menderita malnutrisi akut. Hanya dalam periode Maret hingga Juni, jumlah anak-anak di bawah usia lima tahun yang mengalami kekurangan gizi berlipat ganda.
Secara keseluruhan, UNRWA telah melakukan skrining terhadap 74.000 anak, dan menemukan:
5.500 kasus malnutrisi akut berat
Lebih dari 800 anak berada dalam kondisi kritis akibat wasting, yaitu kondisi di mana tubuh mulai mengonsumsi jaringan tubuhnya sendiri untuk bertahan hidup.
Perang ini bermula sebagai respons terhadap operasi perlawanan historis yang telah lama ditunggu-tunggu terhadap pendudukan dan agresi mematikan Israel selama puluhan tahun. Hingga kini, serangan militer tersebut telah menewaskan lebih dari 59.000 warga Palestina, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.


