Pemerintah Kota di Gaza Memperingatkan: Lebih dari Satu Juta Orang Terancam Kehausan

Peringatan

Gaza, Purna Warta – Pemerintah kota di Jalur Gaza memperingatkan mengenai krisis air yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang membuat lebih dari satu juta penduduk di wilayah tersebut berada dalam ancaman kehausan.

Pemerintah kota di Jalur Gaza mengeluarkan pernyataan darurat mengenai “krisis air yang belum pernah terjadi sebelumnya” di wilayah tersebut. Berdasarkan pernyataan itu, lebih dari satu juta penduduk Gaza menghadapi risiko nyata mengalami kehausan dan kehilangan akses sepenuhnya terhadap air minum yang aman.

Pemerintah kota menegaskan bahwa akibat kekurangan bahan bakar yang parah serta tidak tersedianya suku cadang yang diperlukan untuk memperbaiki generator listrik, sebagian besar fasilitas pengolahan dan pemompaan air telah berhenti beroperasi atau hanya berfungsi dengan kapasitas yang sangat rendah.

Lembaga-lembaga tersebut menyerukan “masuknya bahan bakar dan suku cadang secara segera dan tanpa syarat” agar generator dapat kembali beroperasi dan proses penyediaan air minum dapat dilanjutkan.

Pemerintah kota Gaza kemudian menyatakan bahwa “rezim Zionis sepenuhnya bertanggung jawab atas bencana kemanusiaan yang akan segera terjadi ini” dan meminta masyarakat internasional serta organisasi-organisasi hak asasi manusia untuk segera memberikan tekanan terhadap Israel guna mencegah terjadinya bencana tersebut.

UNICEF melaporkan pada Juli 2026 bahwa 82% keluarga di Gaza berada dalam kondisi tidak aman air (water insecure), sementara hingga 70% penduduk tidak dapat memperoleh sedikitnya 6 liter air per orang per hari untuk minum dan memasak. UNICEF juga menyebut hampir 90% infrastruktur air dan sanitasi telah rusak atau hancur. Kekurangan bahan bakar, suku cadang, serta bahan-bahan penting untuk mengoperasikan generator terus menyebabkan kegagalan sistem air dan sanitasi.

Laporan UNICEF sebelumnya menunjukkan secara lebih rinci mengapa kekurangan bahan bakar berdampak langsung pada pasokan air. Produksi fasilitas desalinasi air laut turun dari sekitar 20.000 meter kubik per hari pada Maret menjadi 16.000 meter kubik, terutama akibat kekurangan bahan kimia dan suku cadang. UNICEF juga melaporkan bahwa sekitar satu juta orang berhasil memperoleh akses air dalam jumlah dan kualitas yang memadai melalui kombinasi pengiriman air dengan truk, fasilitas desalinasi, perbaikan sumur, dan pemeliharaan jaringan, tetapi sistem tersebut tetap sangat rentan terhadap gangguan.

Reuters pada Juli juga menggambarkan kondisi warga Gaza yang harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan air. Menurut laporan tersebut, sebagian keluarga hanya memperoleh air sekitar sekali setiap tiga hari, sementara lebih dari 80% jaringan air dan kapasitas desalinasi telah tidak berfungsi. Kekurangan air bersih kemudian berkontribusi terhadap meningkatnya masalah kesehatan, termasuk infeksi kulit dan penyakit yang ditularkan melalui air.

Persoalan bahan bakar bukan satu-satunya hambatan. Laporan PBB menunjukkan bahwa sistem desalinasi dan pemompaan Gaza membutuhkan bahan bakar, listrik, bahan kimia pengolahan, serta suku cadang. Ketika salah satu komponen tersebut tidak tersedia, produksi air dapat turun secara drastis. Karena itu, tuntutan pemerintah kota Gaza mengenai bahan bakar dan suku cadang mempunyai kaitan langsung dengan kemampuan fasilitas air untuk tetap beroperasi.

Krisis tersebut juga memiliki dimensi sanitasi. Ketika pompa air limbah tidak berfungsi, air limbah dapat menumpuk dan mencemari lingkungan serta sumber air. UNICEF memperingatkan bahwa keterbatasan akses sanitasi, pengelolaan limbah yang terganggu, dan kerusakan infrastruktur meningkatkan risiko penyebaran penyakit serta kontaminasi lingkungan. Kondisi ini sangat berbahaya bagi anak-anak, yang merupakan kelompok sangat rentan dalam situasi kekurangan air dan sanitasi.

Dalam laporan yang lebih luas mengenai layanan air, sanitasi, dan kebersihan (WASH), PBB mencatat bahwa sepanjang 2025 dukungan kemanusiaan masih memungkinkan rata-rata 1,6 juta orang di Gaza memperoleh akses air setiap bulan, termasuk sekitar 1,1 juta orang di wilayah yang sulit dijangkau. Namun, angka tersebut merupakan hasil operasi bantuan darurat dan tidak berarti sistem air publik Gaza telah pulih. Infrastruktur yang rusak, kebutuhan bahan bakar, dan keterbatasan suku cadang tetap menjadi hambatan utama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *