Damaskus, Purna Warta – Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris telah mendokumentasikan lebih dari 1.000 serbuan militer Israel ke wilayah selatan Suriah sejak runtuhnya pemerintahan mantan Presiden Bashar al-Assad pada Desember 2024 hingga 19 September tahun ini.
Angka tersebut menunjukkan keberlanjutan kehadiran militer Israel di wilayah Suriah sekaligus peningkatan intensitas aktivitas militer tersebut sepanjang tahun ini.
Dalam sebuah laporan pada Sabtu, lembaga pemantau yang berbasis di Inggris itu mengatakan bahwa meningkatnya serbuan Israel ke wilayah Suriah mencakup operasi penggeledahan, penangkapan, pembukaan atau pembersihan lahan, serta pembangunan benteng dan posisi militer.
SOHR mencatat sebanyak 460 serbuan Israel sepanjang 2025. Rinciannya berdasarkan bulan adalah sebagai berikut:
- Januari: 4 serbuan
- Februari: 19 serbuan
- Maret: 30 serbuan
- April: 30 serbuan
- Mei: 30 serbuan
- Juni: 38 serbuan
- Juli: 32 serbuan
- Agustus: 35 serbuan
- September: 36 serbuan
- Oktober: 40 serbuan
- November: 90 serbuan
- Desember: 76 serbuan
Sementara itu, dalam periode Januari hingga 19 September 2026, SOHR mencatat total 594 serbuan Israel.
Rinciannya adalah:
- Januari: 51 serbuan
- Februari: 51 serbuan
- Maret: 68 serbuan
- April: 62 serbuan
- Mei: 78 serbuan
- Juni: 73 serbuan
- Juli: 64 serbuan
- Agustus: 95 serbuan
- September: sekitar 52 serbuan
Selain itu, terdapat 14 serbuan yang tercatat sejak jatuhnya pemerintahan al-Assad pada 8 Desember 2024 hingga akhir bulan tersebut. Dengan demikian, total serbuan militer Israel yang didokumentasikan sejak runtuhnya pemerintahan Assad hingga 19 September 2026 mencapai 1.068 kali.
Serangan Militer Israel
Agresi militer Israel juga tidak terbatas pada serbuan darat. Sejak awal 2026, SOHR mencatat 78 serangan militer Israel terhadap wilayah Suriah, yang terdiri atas enam serangan udara dan 72 serangan darat.
Serangan-serangan tersebut menyasar sekitar 13 lokasi, termasuk fasilitas penyimpanan senjata dan amunisi yang tersisa, kantor-kantor administratif, pusat operasional, serta sarana transportasi militer.
Operasi militer Israel yang terus berlangsung di Suriah bagian selatan terjadi meskipun pada bulan lalu berlangsung pertemuan diplomatik tingkat tinggi di Yordania. Pertemuan tersebut mempertemukan Asaad al-Shaibani, pejabat diplomatik utama pemerintahan Suriah yang dikuasai Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), dengan Roman Gofman, direktur badan intelijen Mossad Israel.
Menurut dua sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut dan berbicara kepada AFP, pertemuan itu membahas sejumlah persoalan, terutama rencana pembentukan “pusat operasi khusus” yang dikelola Amerika Serikat di Yordania untuk mencegah kemungkinan konfrontasi militer di Suriah, khususnya konflik yang dapat melibatkan Turki.
Pada 18 Agustus, pesawat militer Israel melakukan delapan serangan udara yang menargetkan landasan pacu Pangkalan Udara Militer Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah barat laut. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan besar terhadap infrastruktur pangkalan, sementara sebuah delegasi militer Turki sedang berada di lokasi.
Sejak runtuhnya pemerintahan Assad pada awal Desember 2024, militer Israel telah melancarkan serangkaian serangan udara terhadap fasilitas, instalasi militer, serta tempat penyimpanan amunisi yang sebelumnya berada di bawah kendali angkatan bersenjata Suriah.
Israel mendapat kritik terkait penghentian perjanjian gencatan senjata 1974 dengan Suriah dan pemanfaatan ketidakstabilan di negara yang dilanda konflik tersebut untuk memperluas ambisi teritorialnya.
Serangan militer Israel terutama menyasar provinsi-provinsi Suriah bagian selatan, yakni Quneitra, Dara’a, dan Damaskus. Ketiga wilayah tersebut mencakup sekitar 80 persen dari seluruh serangan Israel yang telah diverifikasi, menurut laporan tersebut.


