Pasukan Israel Menggerebek Wilayah Pedesaan Quneitra dalam Pelanggaran Baru terhadap Kedaulatan Suriah

Forces 1

Damaskus, Purna Warta – Pasukan militer Israel melancarkan serangan baru ke sejumlah wilayah di pedesaan Provinsi Quneitra, Suriah barat daya, dalam pelanggaran terbaru terhadap kedaulatan negara tersebut, menurut laporan media lokal.

Kantor Berita Arab Suriah (SANA) melaporkan bahwa sebuah pasukan yang terdiri dari tiga kendaraan militer dan bergerak dari Kota Bir Ajam menggerebek Desa Bariqa dan Kudna pada hari Selasa.

Konvoi lain yang terdiri dari dua belas kendaraan militer Israel juga memasuki Desa Saida al-Golan di wilayah pedesaan Quneitra dari sisi barat Desa Saida al-Hanout.

Prajurit Israel turut mendirikan pos pemeriksaan di persimpangan barat Desa Saida al-Golan, sementara sejumlah pasukan Israel lainnya menggerebek rumah-rumah warga setempat.

Serbuan terbaru Israel ini terjadi ketika sebuah delegasi dari rezim penguasa Suriah, Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), tengah menggelar putaran baru perundingan dengan pejabat Israel di Paris, Prancis, di bawah koordinasi dan mediasi Amerika Serikat.

SANA melaporkan pada hari Senin bahwa delegasi Suriah tersebut dipimpin oleh Menteri Luar Negeri rezim HTS, Asaad Hassan al-Shaibani, serta Direktur Jenderal Intelijen Umum, Jenderal Hussein al-Salama.

“Pembahasan terutama difokuskan pada pengaktifan kembali Perjanjian Pemisahan Pasukan tahun 1974 guna memastikan penarikan pasukan Israel ke posisi mereka sebelum 8 Desember 2014, dalam kerangka perjanjian keamanan yang adil yang mengutamakan kedaulatan penuh Suriah serta menjamin pencegahan segala bentuk campur tangan dalam urusan dalam negeri,” ujar seorang sumber yang mengetahui perundingan tersebut.

Kedua pihak telah terlibat dalam diskusi yang berlangsung secara berkala selama beberapa bulan dengan tujuan mencapai sebuah “perjanjian keamanan”; namun hingga kini belum dilaporkan adanya kesepakatan maupun kemajuan substansial.

Setelah runtuhnya pemerintahan mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad pada Desember tahun lalu, militer Israel terus melancarkan serangan udara yang menargetkan instalasi militer, fasilitas, dan gudang senjata yang sebelumnya dioperasikan oleh tentara Suriah yang kini telah dibubarkan.

Israel menuai kecaman luas atas keputusannya mengakhiri perjanjian gencatan senjata tahun 1974 dengan Suriah serta memanfaatkan kekacauan di negara yang dilanda perang tersebut untuk merebut wilayah.

Armed Conflict Location and Event Data (ACLED), lembaga pemantau konflik berbasis di Amerika Serikat, baru-baru ini mengungkapkan bahwa militer Israel telah melakukan lebih dari 600 serangan di Suriah sepanjang tahun lalu.

Meski HTS telah menyampaikan janji kerja sama dengan Tel Aviv, Israel tetap menunjukkan sikap enggan untuk menarik pasukannya dari wilayah Suriah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *