Islamabad, Purna Warta – Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai “monster” dan aib bagi kemanusiaan karena dianggap melindungi serta mendorong tindakan pemerkosaan terhadap tahanan Palestina.
Dalam wawancaranya dengan CBS News awal pekan ini, Netanyahu menuduh Pakistan menjalankan kampanye anti-Israel yang terkoordinasi untuk merusak hubungan antara Amerika Serikat dan Israel. Ia juga menuduh Islamabad memberikan perlindungan kepada pesawat militer Iran guna melindunginya dari serangan Amerika Serikat dan Israel.
Menanggapi tuduhan terhadap Islamabad tersebut, Asif mengecam Netanyahu atas apa yang ia sebut sebagai kejahatan mengerikan, termasuk melindungi dan mendorong pemerkosaan terhadap tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.
“Lihat siapa yang berbicara! Seorang monster yang melindungi dan mempromosikan pemerkosaan terhadap tahanan Palestina — perempuan, laki-laki, dan anak-anak — oleh tentara Israel, penjaga penjara, dan anjing. Kemanusiaan menundukkan kepala dalam rasa malu,” tulis Menteri Pertahanan Pakistan itu melalui akun X miliknya pada Rabu.
Pada bulan Maret lalu, Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB mengenai situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967, menyatakan dalam sebuah laporan bahwa “penyiksaan dalam tahanan telah digunakan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya sebagai bentuk balas dendam kolektif yang bersifat menghukum.”
Laporan tersebut juga mengungkap bahwa pemukulan brutal, kekerasan seksual, pemerkosaan, perlakuan mematikan, kelaparan, serta perampasan sistematis terhadap kebutuhan dasar manusia telah meninggalkan luka mendalam dan berkepanjangan pada tubuh dan mental puluhan ribu warga Palestina beserta keluarga mereka.
Menurut data terbaru, lebih dari 9.300 warga Palestina saat ini ditahan di penjara-penjara Israel, termasuk sekitar 350 anak-anak. Selama beberapa tahun terakhir, berbagai laporan mengenai dugaan kekerasan seksual di penjara Israel juga terus bermunculan.
Sementara itu, survei terbaru Pew menunjukkan bahwa enam dari sepuluh warga Amerika memiliki pandangan yang sangat atau cukup negatif terhadap rezim pendudukan Israel. Angka tersebut meningkat tujuh poin persentase sejak 2025 dan hampir 20 poin sejak 2022.
Netanyahu menyalahkan media sosial atas memburuknya citra Israel, dengan mengklaim bahwa penurunan dukungan itu terjadi akibat “kampanye disinformasi” yang terkoordinasi di media sosial.
“Kami melihat penurunan dukungan terhadap Israel di Amerika Serikat hampir sepenuhnya sejalan dengan peningkatan geometris media sosial,” katanya kepada CBS News.
Netanyahu juga membantah bahwa perang yang dilancarkannya di Gaza terhadap warga Palestina berkontribusi terhadap citra negatif Israel.
Perdana Menteri Israel itu juga melancarkan ofensif militer besar-besaran di Lebanon selatan sejak awal Maret.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan Israel terhadap negara Arab tersebut sejak 2 Maret telah menewaskan sedikitnya 2.869 orang dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi.
Berdasarkan sejumlah laporan, Netanyahu disebut menyeret Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke dalam perang agresi terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian berkembang menjadi konflik regional dan mengguncang dunia internasional.
Perang tersebut, yang menewaskan ratusan warga sipil di Iran, berakhir setelah 40 hari ketika gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mulai berlaku.
Di sisi lain, Netanyahu saat ini juga menghadapi persidangan kasus korupsi. Selain itu, sejak 2024 ia menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Perang di Jalur Gaza yang terkepung telah menewaskan lebih dari 70 ribu warga Palestina dan menyebabkan wilayah pesisir tersebut hancur total.


