Al-Quds, Purna Warta – Media Israel mengakui adanya lebih banyak kerugian sejak dimulainya operasi Topan Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023. Sebelumnya, sensor ketat diberlakukan sehingga hampir tidak ada informasi mengenai kerugian yang dipublikasikan, seolah-olah tidak terjadi kerugian sama sekali.
Menurut surat kabar Ibrani Yedioth Ahronoth, statistik ini mencakup jumlah korban tewas dan luka-luka serta kerugian ekonomi. Namun, akibat ketatnya sensor, angka sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar daripada data yang diumumkan.
Berdasarkan laporan Yedioth Ahronoth yang mengutip pihak oposisi di entitas pendudukan, statistik tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari jumlah korban tewas dan terluka, jumlah pemukim yang dievakuasi dari rumah mereka, hingga mereka yang meninggalkan wilayah pendudukan untuk melarikan diri dari perang. Data itu juga mencakup jumlah roket yang diluncurkan ke posisi-posisi pendudukan, kerusakan terhadap kepentingan dan fasilitas bisnis milik entitas tersebut, sampai angka defisit keuangan dan utang nasional.
Adapun angka-angka yang diungkap surat kabar tersebut adalah sebagai berikut:
- 2.200 korban tewas dan luka-luka
- 20.000 orang terluka
- 600.000 pemukim mencari dukungan psikologis
- 143.000 pemukim dievakuasi dari rumah mereka
- 38.000 roket diluncurkan ke wilayah entitas pendudukan
- Rata-rata 165 hari masa tugas cadangan militer
- 80.000 perusahaan milik entitas mengalami kekurangan tenaga kerja
- 100.000 usaha bisnis ditutup
- 280 tentara mencoba bunuh diri
- 70 tentara bunuh diri
- 200.000 pemukim meninggalkan wilayah pendudukan
- 2.600.000 orang mengalami kerawanan pangan
- Utang nasional entitas mencapai 1.329.000.000.000
- Defisit keuangan entitas “Israel” mencapai 100.000.000.000
Beberapa hari lalu, partai-partai oposisi di entitas pendudukan menyerukan pembubaran Knesset dan penyelenggaraan pemilu segera. Mereka memperingatkan bahwa kelanjutan pemerintahan Netanyahu hanya akan memperparah perpecahan politik dan militer.


