London, Purna Warta – Kementerian Dalam Negeri Inggris melaporkan bahwa kepolisian Inggris telah mencatat rekor baru dalam jumlah penangkapan sejak Januari lalu dengan dalih “terkait terorisme,” di mana mayoritas dari mereka yang ditahan adalah para pendukung Palestina.
Dalam laporan pada Minggu (…/…), kementerian menyebutkan bahwa polisi telah menangkap sedikitnya 1.339 orang dengan menggunakan Terrorism Act 2000. Menurut laporan tersebut, sebagian besar penangkapan dilakukan terhadap individu yang membawa spanduk pro-Palestina dalam unjuk rasa yang digelar di berbagai kota.
Gelombang aksi besar-besaran terjadi di seluruh negeri setelah pemerintah Inggris pada Juli lalu menetapkan kelompok Palestine Action sebagai organisasi terlarang. Kelompok aksi langsung pro-Palestina itu dibubarkan setelah hampir lima tahun melakukan berbagai protes menentang keberadaan pabrik senjata Israel di Inggris dan keterlibatan London dalam kejahatan rezim Israel.
Sejak berdiri, Palestine Action kerap menggelar aksi berani menargetkan kantor pusat perusahaan senjata Israel serta perusahaan-perusahaan Inggris yang terlibat dalam genosida di Gaza.
Sabtu lalu, Inggris menyaksikan aksi unjuk rasa terbesar menentang pelarangan tersebut. Sekitar 1.500 demonstran berkumpul di Parliament Square, Westminster, menentang keputusan pemerintah sekaligus mengecam genosida yang masih berlangsung di Gaza.
Gerakan ini semakin menguat sejak Oktober 2023, saat rezim Israel melancarkan perang genosida di Jalur Gaza yang telah merenggut hampir 64.400 nyawa warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak.
Menjelang pemberlakuan larangan itu, aktivis Palestine Action berhasil memaksa Elbit Systems UK, anak perusahaan produsen senjata Israel, menutup fasilitasnya di Bristol setelah digempur aksi protes berulang kali. Polisi kemudian menangkap sedikitnya 890 peserta aksi tersebut.


