Al-Quds, Purna Warta – Avi Ashkenazi, analis militer tersebut, menyatakan bahwa lembaga-lembaga keamanan Israel sedang mengalami keruntuhan bertahap, yang tampak dalam kegagalan menjalankan instruksi, meluasnya budaya kerahasiaan dan kebohongan, serta keluarnya tenaga profesional secara besar-besaran. Kondisi ini menyebabkan para ahli digantikan personel yang kurang berpengalaman, sehingga kemampuan militer Israel dalam menghadapi tantangan yang terus berkembang semakin melemah.
Baca juga: HAM: Israel Melakukan ‘Eksekusi Sistematis’ Terhadap Tahanan Palestina
Ia menambahkan bahwa eksodus tenaga ahli (pengunduran diri para profesional) telah memaksa sistem keamanan mengandalkan personel yang kurang kompeten, yang pada akhirnya melemahkan kemampuan militer untuk menangani dinamika ancaman yang berubah cepat.
Ashkenazi menegaskan bahwa meskipun Israel dapat memperoleh pesawat, kapal, dan teknologi mutakhir, tanpa tenaga kerja profesional dan berkomitmen terhadap nilai-nilai militer, Israel tidak akan mampu mempertahankan keunggulan militernya.
Menurut laporan tersebut, kemerosotan keamanan ini berbarengan dengan meningkatnya “terorisme Yahudi”. Saat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengadakan rapat kabinet untuk membahas solusi, para “pemuda hilltop” melancarkan serangan baru di kota Huwwara dan menyebabkan kerusakan besar.
Ashkenazi memperingatkan bahwa penyelundupan senjata tidak hanya membanjiri Israel dengan senjata ilegal, tetapi juga membongkar kebohongan narasi militer dan polisi mengenai distribusi senjata yang diklaim tidak jatuh ke tangan geng kriminal. Ia menekankan bahwa sebagian dari senjata tersebut sangat mungkin digunakan di masa depan untuk menyerang Israel.
Ia menyinggung kegagalan satu unit militer Israel yang sepenuhnya dikalahkan oleh “pejuang bersandal” (mujahid Qassam) pada 7 Oktober sebagai bukti risiko tersebut.
Baca juga: Save the Children: Israel Bunuh Sedikitnya 20.000 Anak di Gaza
Menurut analis itu, sementara berbagai wilayah Israel dilanda kekacauan, para penduduk di utara membayar geng kriminal untuk perlindungan, suku Badui di Negev mengendalikan jalan-jalan, dan para pemukim Yahudi meningkatkan aksi teror hingga mencapai titik yang tidak dapat dikembalikan.
Ashkenazi menggambarkan situasi internal Israel sebagai kacau dan tak terkendali, seraya menegaskan bahwa indikator kekerasan dan pembunuhan menunjukkan negara tersebut telah kehilangan kendali sepenuhnya. Ia mendesak para pimpinan politik dan militer untuk berhenti terjebak dalam persaingan pribadi dan mulai mengakui realitas krisis internal tersebut.
Ia juga memperingatkan mengenai meningkatnya terorisme Yahudi di Tepi Barat, menegaskan bahwa penyelundupan senjata bukan sekadar aktivitas kriminal, tetapi merupakan bagian dari krisis struktural mendalam yang mengancam keamanan Israel dari dalam.


