Gaza, Purna Warta – Gaza pada musim semi tahun 2026 menghadapi salah satu krisis kemanusiaan paling parah dalam sejarah kontemporernya. Setelah gencatan senjata sementara dan kemudian terhentinya bantuan internasional, sistem kesehatan di wilayah tersebut praktis runtuh dan penyakit menular menyebar dengan sangat cepat.
Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada awal Mei 2026, kasus penyakit diare, infeksi saluran pernapasan, kudis, kutu, dan cacar air telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih dari 90 persen penduduk Gaza masih mengungsi dan tinggal di tenda-tenda maupun tempat penampungan sementara, di mana limbah kotor mengalir di jalanan dan akses terhadap air bersih hampir tidak mungkin diperoleh.
Berdasarkan laporan Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) tertanggal 29 April 2026, lebih dari 10 ribu kasus infeksi kulit dilaporkan hanya di kamp-kamp pengungsian yang berada di bawah pengawasan lembaga tersebut. Save the Children juga menyatakan bahwa lebih dari 80 persen lokasi penampungan darurat mengalami serangan tikus dan serangga, sementara hampir dua pertiga anak-anak menunjukkan gejala ruam kulit yang parah.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) dalam laporannya pada 8 Mei 2026 memperingatkan bahwa dengan dimulainya musim panas, risiko penyebaran penyakit leptospirosis dan penyakit mirip kolera meningkat tajam. Rumah sakit-rumah sakit yang masih beroperasi di Gaza menghadapi kekurangan obat-obatan, bahan bakar, dan peralatan medis yang sangat serius, dan banyak di antaranya hanya mampu memberikan layanan darurat terbatas.
Situasi kesehatan disebut sangat kritis hingga WHO dalam laporan Maret–April 2026 menyatakan bahwa Gaza berada di ambang “krisis kesehatan total”. Penghentian bantuan setelah sejumlah keputusan politik pada tahun 2025 telah mengganggu rantai pasokan obat dan vaksin. Kasus diare pada anak-anak telah melampaui 136 ribu kasus, sementara infeksi saluran pernapasan mencapai lebih dari 180 ribu kasus. Angka-angka tersebut meningkat berkali-kali lipat dibandingkan masa sebelum perang.
Kekurangan vaksin dan terganggunya program imunisasi juga meningkatkan risiko munculnya kembali penyakit seperti polio. Gaza pada tahun 2024 mencatat kasus polio pertama setelah 25 tahun, dan kondisi saat ini dikhawatirkan dapat mengubahnya menjadi epidemi.
Penduduk Gaza kini hidup dalam kondisi kepadatan yang sangat tinggi, di mana beberapa wilayah dihuni lebih dari 20 ribu orang per kilometer persegi. Limbah yang mengalir terbuka, tumpukan sampah, dan tidak adanya sistem pengelolaan limbah menjadikan lingkungan tersebut tempat ideal bagi penyebaran patogen. Anak-anak, perempuan hamil, dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan.
Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa malnutrisi akut pada anak-anak di bawah usia lima tahun telah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan dan membuat sistem kekebalan tubuh mereka sangat lemah terhadap infeksi.
Dalam beberapa pekan terakhir, laporan lapangan Palang Merah menunjukkan peningkatan tajam kasus infeksi kulit dan disentri di kamp-kamp pengungsian di Gaza tengah. Doctors Without Borders (MSF) juga memperingatkan bahwa tanpa masuknya bantuan medis secara segera, musim panas 2026 dapat berubah menjadi musim mematikan akibat wabah penyakit.
Situasi air dan sanitasi disebut sangat buruk sehingga WHO memperkirakan risiko penyebaran bakteri Vibrio cholerae — penyebab kolera — menjadi ancaman nyata, terutama dengan meningkatnya suhu udara.
Krisis kemanusiaan baru ini dipandang sebagai akibat langsung dari penghentian bantuan dan pembatasan akses. Setelah gencatan senjata, bantuan internasional menurun drastis dan banyak lembaga menghentikan komitmennya karena pertimbangan politik. Akibatnya, sistem kesehatan Gaza yang sebelumnya sudah berada di bawah tekanan kini praktis lumpuh.
Rumah sakit beroperasi tanpa listrik yang memadai, kekurangan obat-obatan dan tenaga medis spesialis. Banyak dokter dan perawat juga menjadi korban perang atau pengungsian.
Laporan WHO menyebutkan bahwa sejak Oktober 2023 hingga akhir 2025, lebih dari 930 serangan terhadap fasilitas kesehatan telah tercatat. Penyakit menular yang paling banyak dilaporkan meliputi infeksi saluran pernapasan akut, diare akut berair, hepatitis A, dan disentri.
WHO juga menegaskan bahwa pembatasan bantuan, kekurangan vaksin, dan terganggunya pengawasan penyakit membuat pengendalian wabah menjadi sangat sulit. Pada Agustus 2025, Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan lebih dari seribu kasus dugaan meningitis, termasuk meningitis bakteri dan sindrom Guillain-Barré, dengan sejumlah korban meninggal dunia.
Sementara itu, UNRWA memperkirakan lebih dari 54.600 anak mengalami malnutrisi akut dan menghadapi peningkatan risiko kematian jika tidak segera ditangani.
Laporan-laporan lembaga kemanusiaan internasional juga menyoroti dampak blokade terhadap kesehatan masyarakat Gaza. Blokade yang diberlakukan sejak 2007 dan diperketat setelah perang 2023–2026 disebut sebagai salah satu blokade terpanjang dan paling berat dalam sejarah modern.
Menurut WHO pada Maret 2026, lebih dari 50 persen obat-obatan penting di Gaza telah habis total. Dari 622 jenis obat vital, sebanyak 312 jenis tidak lagi tersedia. Kekurangan tersebut mencakup obat kanker, antibiotik, insulin, obat jantung, anestesi, dan perlengkapan bedah.
Organisasi Physicians for Human Rights dalam laporannya pada Juli 2025 menyatakan bahwa pembatasan terhadap masuknya perlengkapan medis telah menyebabkan kematian yang sebenarnya dapat dicegah serta penderitaan besar bagi para pasien. Banyak pasien kanker hanya menerima sebagian kecil dari obat yang mereka butuhkan, sementara sejumlah operasi dilakukan tanpa anestesi yang memadai.
Israel menyatakan bahwa beberapa barang medis dikategorikan sebagai barang “berfungsi ganda” yang dapat digunakan untuk tujuan militer. Namun organisasi hak asasi manusia menilai klasifikasi tersebut terlalu luas dan sering kali bermotif politik, karena mencakup barang-barang seperti baterai, tabung oksigen, jarum suntik, hingga gips medis.
Dampak blokade medis ini dinilai sangat menghancurkan. Lebih dari 90 persen penduduk masih mengungsi dan tinggal di kamp-kamp yang sangat padat. Kasus diare akut pada anak-anak melampaui 136 ribu kasus, sementara infeksi pernapasan lebih dari 180 ribu kasus. Infeksi kulit seperti kudis, kutu, dan ruam berat dilaporkan di hampir separuh lokasi pengungsian.
Malnutrisi akut juga memperburuk keadaan. Lebih dari 54 ribu anak mengalami kekurangan gizi parah yang melemahkan sistem imun mereka dan meningkatkan risiko kematian akibat infeksi sederhana.
Dengan meningkatnya suhu udara, limbah terbuka, dan kelangkaan air bersih, risiko wabah kolera, leptospirosis, dan infeksi yang resistan terhadap antibiotik diperkirakan semakin tinggi. Tanpa masuknya bantuan medis, vaksin, air bersih, dan bahan disinfektan secara segera, musim panas 2026 dikhawatirkan akan berubah menjadi periode paling mematikan akibat penyakit.
Pada akhirnya, berbagai laporan lembaga internasional menggambarkan bahwa Gaza berada di ambang bencana kesehatan total. Tingginya angka kematian tidak langsung akibat penyakit diperkirakan dapat melampaui jumlah korban langsung perang, sehingga memperdalam tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung di wilayah tersebut.


