Korban Tewas di Gaza Mencapai 73.928 Orang

Gaza korban

Gaza, Purna Warta – Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza menyatakan bahwa sejak dimulainya perang di Gaza pada 7 Oktober 2023, jumlah warga Palestina yang tewas di Jalur Gaza telah mencapai 73.928 orang, sementara jumlah korban luka mencapai 175.030 orang.

Baca juga: Washington Post: Isolasi Netanyahu di PBB Belum Pernah Terjadi Sebelumnya

Menurut laporan  Al-Masirah, Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza pada Kamis (24/9) mengumumkan bahwa lima warga Palestina tewas dalam 24 jam terakhir, termasuk satu orang yang sebelumnya mengalami luka-luka dan kemudian meninggal dunia.

Kementerian tersebut juga menyatakan bahwa 35 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Israel selama periode 24 jam tersebut.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menambahkan bahwa sejak diberlakukannya gencatan senjata di Jalur Gaza, sebanyak 1.408 warga Palestina telah tewas dan 4.916 lainnya mengalami luka-luka.

Dengan demikian, meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober 2025, korban jiwa dan luka masih terus dilaporkan akibat serangan dan insiden kekerasan di berbagai wilayah Jalur Gaza. Reuters sebelumnya juga melaporkan bahwa serangan udara Israel masih menimbulkan korban setelah gencatan senjata, sementara proses perdamaian menghadapi berbagai persoalan yang belum terselesaikan.

Serangan dan Pelanggaran Gencatan Senjata Masih Berlangsung

Laporan yang diterbitkan pada 25 September menyebutkan bahwa pasukan Israel masih melakukan serangkaian serangan di sejumlah wilayah Gaza, termasuk tembakan, penembakan artileri dan penghancuran bangunan serta fasilitas sipil. Beberapa warga Palestina dilaporkan mengalami luka-luka dalam rangkaian serangan tersebut.

Sumber lain juga melaporkan bahwa pada Kamis terjadi serangan di wilayah tengah Jalur Gaza yang menewaskan dua warga Palestina dan melukai sembilan lainnya, sementara serangan juga dilaporkan terjadi di Khan Younis di bagian selatan.

Situasi Kemanusiaan Tetap Kritis

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa hampir satu tahun setelah pengumuman gencatan senjata pada Oktober 2025, warga sipil di Gaza masih menghadapi risiko yang serius akibat kerusakan luas, serangan yang terus berlangsung, pembatasan masuknya bantuan dan peralatan penting, serta kekurangan pendanaan kemanusiaan. PBB juga memperingatkan bahwa kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan menjelang musim hujan.

Menurut laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), hingga pertengahan September ribuan warga Gaza masih tinggal di bangunan yang rusak dan dinilai tidak aman karena keterbatasan tempat tinggal alternatif. Pada 16 September, sebuah bangunan tempat tinggal enam lantai yang telah rusak akibat perang runtuh di kawasan Tal al-Hawa, Gaza City, dan menewaskan 21 orang, termasuk 12 anak-anak, menurut pertahanan sipil setempat. Upaya pencarian dan penyelamatan juga terhambat oleh kekurangan alat berat, bahan bakar, suku cadang dan peralatan khusus.

Krisis kesehatan juga terus memburuk. OCHA melaporkan meningkatnya kasus penyakit menular, termasuk 45.190 kasus impetigo yang tercatat antara 2 Agustus hingga 12 September. Kekurangan obat-obatan, bahan bakar dan berbagai perlengkapan medis turut membatasi kemampuan fasilitas kesehatan untuk memberikan layanan secara optimal.

Kekurangan Air dan Bantuan Kemanusiaan

Kondisi akses terhadap air bersih juga tetap memprihatinkan. Dalam laporan terbarunya, OCHA menyebutkan bahwa 91 persen rumah tangga yang dinilai di Gaza menghadapi tingkat kerawanan air sedang hingga tinggi. Banyak keluarga bergantung pada distribusi air menggunakan truk, sementara kerusakan infrastruktur dan keterbatasan pasokan terus menghambat pemulihan layanan air dan sanitasi.

PBB juga mencatat bahwa Kerem Shalom masih menjadi satu-satunya titik penyeberangan yang beroperasi untuk pengiriman kargo setelah penutupan Zikim Crossing di Gaza utara pada 24 Mei. Kondisi tersebut membuat sistem pasokan Gaza sangat rentan terhadap gangguan, karena gangguan pada satu jalur utama tersebut dapat berdampak langsung terhadap ketersediaan kebutuhan pokok.

Pendidikan Gaza Kembali Berjalan di Tengah Kehancuran

Di tengah kondisi tersebut, ratusan ribu siswa di Gaza mulai kembali mengikuti kegiatan pembelajaran secara langsung pada tahun ajaran 2026–2027. Reuters melaporkan bahwa sekitar 98 persen sekolah di Gaza telah mengalami kerusakan atau kehancuran, sementara sekitar 660.000 siswa sebelumnya tidak memperoleh pendidikan tatap muka secara konsisten. Pembelajaran kini dilakukan di sejumlah sekolah sementara yang menggunakan tenda, terpal dan fasilitas terbatas.

Baca juga: Hamas: Siap Melaksanakan “Peta Jalan” di Gaza; Tel Aviv Disebut sebagai Penghambat

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun gencatan senjata telah mengurangi skala perang dibandingkan periode sebelumnya, dampak kemanusiaan, kerusakan infrastruktur, kekurangan kebutuhan dasar dan kekerasan yang masih berlangsung tetap menjadi persoalan utama di Gaza. Data korban yang disampaikan Kementerian Kesehatan Gaza merupakan angka yang dilaporkan otoritas kesehatan setempat; badan-badan PBB juga menggunakan data tersebut dalam laporan kemanusiaan mereka, dengan penjelasan mengenai sumber dan periode pelaporannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *