Al-Quds, Purna Warta – Surat kabar berbahasa Ibrani Maariv mengungkap adanya aktivitas di balik layar yang dilakukan oleh rezim tersebut untuk menciptakan jalur baru pengiriman minyak dari Teluk Persia ke Eropa melalui pelabuhan-pelabuhan Israel. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb serta ketegangan yang berlanjut dengan Iran.
Menurut laporan ISNA, Eli Cohen dalam sebuah wawancara dengan Radio North secara langsung membahas proyek tersebut, dengan menggambarkan perkembangan keamanan regional sebagai peluang ekonomi dan strategis bagi Tel Aviv.
Menteri energi rezim Zionis itu mengungkap adanya kegiatan rahasia di sektor energi untuk memindahkan minyak Arab Saudi dan UEA melalui Israel menuju Eropa.
Menurut situs berita berbahasa Ibrani Walla, Cohen mengklaim bahwa kegiatan di sektor energi tersebut sedang dilakukan secara rahasia. Ia mengatakan: “Kami akan mengubah masalah menjadi peluang, dan ini akan membawa manfaat ekonomi besar bagi Israel.”
Ia juga mengklaim bahwa jalur tersebut telah diusulkan selama bertahun-tahun dan kini mendapatkan dukungan signifikan, terutama karena ancaman dari kelompok Houthi di Selat Bab al-Mandeb dan ketegangan dengan Iran di Selat Hormuz.
Cohen juga menyatakan: “Iran saat ini berada di bawah tekanan dan tahu bahwa opsinya terbatas.”
Ia menambahkan bahwa Israel dan pemerintah United States memiliki kesamaan pandangan mengenai Iran.
Dalam pernyataannya yang bernada keras terhadap Iran, ia mengatakan: “Kami sepakat dengan Trump dalam segala hal. Ia dengan jelas menegaskan bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir dan tidak akan melakukan pengayaan uranium di wilayahnya.”
Menteri tersebut juga mengklaim bahwa tanpa tindakan Israel dan Amerika Serikat, Iran akan semakin dekat dengan kepemilikan senjata nuklir, yang menurutnya dapat memicu perlombaan senjata regional.
Laporan Maariv menyebut bahwa Tel Aviv berupaya memposisikan dirinya sebagai jalur transit aman dan alternatif strategis bagi rute pelayaran yang dipengaruhi oleh ketegangan dengan Iran, sekaligus memanfaatkan perubahan geopolitik akibat perang dan konflik regional.
Maariv juga mengklaim bahwa perkembangan keamanan di Laut Merah dan Teluk Persia membuka jalan bagi proyek-proyek yang sebelumnya menghadapi hambatan politik, termasuk rencana menghubungkan minyak dari kawasan Teluk ke pelabuhan Israel di Mediterania untuk melewati jalur tradisional seperti Selat Hormuz dan Terusan Suez.


