Kelompok Pro-Israel Menobatkan Tucker Carlson sebagai ‘Antisemit Tahun Ini’ atas Kritik Terhadap Genosida Gaza

Kritik

Washington, Purna Warta – Sebuah kelompok advokasi pro-Israel yang berbasis di Amerika Serikat menobatkan jurnalis Tucker Carlson sebagai “Antisemit Tahun Ini”, dengan alasan sikap vokalnya yang menentang  genosida Israel di Gaza serta kritik tajamnya terhadap lobi pro-Israel di Washington.

Baca juga: Usulan Penyelidikan untuk Mengkaji Hubungan Militer Prancis dengan Israel

Kelompok bernama StopAntisemitism itu mengumumkan penobatan tersebut pada Minggu. Mereka menuduh Carlson secara berulang menggunakan podcast dan berbagai penampilan medianya untuk mengkritik apa yang mereka sebut sebagai tindakan genosida Israel di Gaza, serta pengaruh politik luas kelompok-kelompok pro-Israel di Washington.

Carlson, yang platform daringnya menjangkau jutaan orang, muncul sebagai salah satu tokoh sayap kanan paling menonjol yang secara terbuka mengkritik peran Israel dalam politik Amerika Serikat sejak perang di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023.

Ia berulang kali menyatakan bahwa Amerika Serikat turut terlibat dalam perang tersebut dan mempertanyakan sejauh mana pengaruh yang dijalankan oleh organisasi-organisasi pelobi pro-Israel.

Di antara kelompok tersebut, Carlson secara khusus menyoroti American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), yang ia gambarkan pengaruhnya sebagai “ritual penghinaan yang terus berlangsung” terhadap para anggota parlemen Amerika Serikat dan negara itu sendiri.

Carlson juga mengecam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena secara terbuka membanggakan pengaruhnya terhadap para pemimpin Amerika. Netanyahu diketahui menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait perang di Gaza, yang sejauh ini dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 70.937 orang dan melukai lebih dari 171.000 lainnya, dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.

Dalam sebuah wawancara pada September dengan jurnalis Glenn Greenwald, Carlson mengatakan Netanyahu secara terbuka mengklaim memiliki kendali atas kepemimpinan politik Amerika Serikat, termasuk Presiden Donald Trump.

Carlson juga mengkritik apa yang ia sebut sebagai “Zionisme Kristen”, yang menurutnya menjadi pendorong utama dukungan tanpa syarat Amerika Serikat terhadap Israel. Ia berpendapat bahwa Zionisme Kristen merupakan ancaman bagi kekristenan di Amerika Serikat, serta mengecam para penganutnya karena menganggap keberadaan Israel dan upaya dominasi militernya sebagai sebuah “mandat keagamaan”.

StopAntisemitism turut menuduh Carlson menargetkan komentator pro-Israel Ben Shapiro, dengan menyatakan bahwa Carlson mengkritik Shapiro karena dinilai lebih mengutamakan Israel sementara Amerika Serikat sendiri menghadapi berbagai persoalan domestik.

Perselisihan tersebut meningkat pada akhir pekan lalu ketika Steve Bannon, mantan penasihat Gedung Putih pada masa pemerintahan Trump dan sekutu dekatnya, secara terbuka mengkritik Shapiro dalam sebuah konvensi konservatif besar. Bannon menyebut Shapiro sebagai “Israel First”, yang disambut sorakan hadirin.

Direktur eksekutif StopAntisemitism, Liora Reznichenko, secara terbuka menyatakan bahwa strategi kelompoknya terhadap para pengkritik Israel adalah melalui pengungkapan publik dan tekanan reputasi.

Baca juga: Produsen Senjata Israel Membanggakan Produk Mereka Usai Genosida di Gaza

Dalam sebuah konferensi Jerusalem Post di Capitol Hill pada Desember, Reznichenko mengatakan kelompok tersebut bertujuan membuat pernyataan para pengkritik dapat ditelusuri secara permanen di internet melalui dokumentasi publik.

Ia mengklaim bahwa kampanye StopAntisemitism sejauh ini telah menyebabkan sedikitnya 400 orang kehilangan pekerjaan, termasuk akademisi, aktivis, dan tokoh media.

Di antara pihak yang menjadi sasaran StopAntisemitism adalah pendidik anak Rachel Griffin Accurso, yang dikenal luas sebagai Ms Rachel. Kelompok tersebut menuduh Accurso bersikap antisemit setelah ia membagikan konten yang menyoroti penderitaan anak-anak Palestina selama pemboman dan pengepungan Gaza.

StopAntisemitism berulang kali mengkritik Accurso karena mengunggah gambar anak-anak kelaparan dan anak-anak korban amputasi kepada lebih dari 20 juta pengikutnya.

Kelompok itu juga mendesak Jaksa Agung Amerika Serikat Pam Bondi untuk menyelidiki Accurso atas dugaan pendanaan asing, meski tanpa menyertakan bukti. Sebaliknya, Accurso justru dinobatkan sebagai salah satu “Women of the Year 2025” oleh majalah Glamour atas kiprahnya dalam pendidikan anak usia dini serta advokasinya bagi anak-anak yang terdampak perang di seluruh dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *