Kelompok Perlawanan Palestina Peringatkan Israel setelah Serangan Paling Mematikan Sejak Gencatan Senjata Oktober 2025

Resistan

Al-Quds, Purna Warta – Kelompok-kelompok perlawanan Palestina mengeluarkan peringatan keras menyusul serangan udara Israel yang disebut sebagai yang paling mematikan sejak gencatan senjata pada Oktober 2025. Mereka menyatakan bahwa pemboman yang terus berlangsung merupakan upaya yang disengaja untuk menggagalkan gencatan senjata serta menunjukkan bahwa Israel tidak berniat memenuhi komitmennya dalam kesepakatan tersebut.

Serangan yang menyasar bangunan permukiman, kendaraan, dan tenda-tenda pengungsian itu menewaskan sedikitnya 19 warga Palestina pada Minggu. Menurut pejabat kesehatan Palestina, angka tersebut menjadi salah satu jumlah korban harian tertinggi sejak gencatan senjata mulai berlaku.

Petugas medis mengatakan bahwa korban tewas termasuk perempuan dan anak-anak.

Menurut sumber medis, tiga anggota satu keluarga tewas ketika serangan udara Israel menghantam sebuah apartemen di Menara Al-Sousi, Gaza City bagian barat. Para korban diidentifikasi sebagai Abdullah Abu Taif (33), istrinya yang sedang hamil Abeer Anan (29), serta putra mereka yang berusia lima tahun, Azzam.

Di wilayah Al-Qarara, sebelah barat laut Khan Younis, serangan Israel terhadap sebuah apartemen menewaskan Mahmoud al-Hams (38), istrinya Fatima (37), dan putri mereka yang masih kecil.

Sementara itu, di dekat Deir al-Balah di Gaza tengah, serangan terhadap sebuah rumah menewaskan Kamal Abu Muailiq (68) dan istrinya Huda Abu Muailiq (59). Di wilayah yang sama, dua bersaudara juga dilaporkan tewas ketika sedang mengendarai sepeda motor.

Di lokasi lain, seorang warga Palestina tewas setelah menjadi sasaran serangan langsung di Kamp Pengungsi Jabalia, Gaza utara.

Di kawasan Al-Mawasi, Khan Younis, satu warga Palestina tewas dan lima lainnya terluka setelah serangan Israel menghantam sebuah tenda pengungsian.

Selain itu, dua warga Palestina tewas dalam serangan pesawat nirawak Israel terhadap tenda yang menampung warga terlantar di kawasan Al-Rimal, Gaza City bagian barat. Empat orang lainnya dilaporkan tewas dalam serangan terhadap sebuah kendaraan di Gaza City.

Pejabat kesehatan Palestina menyatakan bahwa serangan sejak Minggu dini hari menghasilkan jumlah korban harian tertinggi di Gaza dalam beberapa pekan terakhir.

Gencatan senjata sebelumnya disepakati berdasarkan proposal yang diajukan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan tujuan mengakhiri perang di Gaza. Namun, menurut laporan tersebut, Washington dinilai gagal memperoleh jaminan yang diperlukan agar Israel berkomitmen penuh terhadap pelaksanaan kesepakatan.

Serangan terbaru tersebut memicu kecaman dari berbagai kelompok perlawanan Palestina yang menuduh Israel melanggar gencatan senjata dan berupaya menggagalkan implementasi kesepakatan.

Hamas mengecam meningkatnya serangan Israel dan menyatakan bahwa tindakan tersebut bertujuan menghambat pelaksanaan berbagai kesepahaman yang telah dicapai terkait implementasi gencatan senjata. Hamas juga mendesak para mediator dan negara-negara penjamin kesepakatan untuk menekan Israel agar menghentikan serangan dan mematuhi isi perjanjian.

Komite Perlawanan Palestina (Palestinian Resistance Committees/PRC) juga mengutuk serangan tersebut. Kelompok itu menyebut tindakan Israel sebagai pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata dan upaya menciptakan “fakta baru di lapangan.”

Menurut PRC, serangan terhadap keluarga-keluarga Palestina menunjukkan tekad pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu> untuk terus melanjutkan perang di Gaza dan mengabaikan berbagai upaya memperkuat gencatan senjata.

Kelompok itu menambahkan bahwa rangkaian serangan tersebut tidak akan melemahkan tekad rakyat Palestina, melainkan akan memperkuat keteguhan mereka dalam mempertahankan hak-haknya serta menghadapi agresi hingga tujuan mereka tercapai.

Sementara itu, Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) juga mengecam serangan pada Minggu, dengan menyatakan bahwa pemerintahan Netanyahu merespons kesepakatan gencatan senjata dengan meningkatkan intensitas serangan dan “memanfaatkan darah rakyat Palestina untuk kepentingan politik domestik.”

PFLP menyebut serangan tersebut sebagai “kejahatan perang” dan gelombang baru teror terhadap rakyat Palestina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *