Kekhawatiran Israel atas Meluasnya Kasus Spionase yang Dikaitkan dengan Iran

Jasus

Al-Quds, Purna Warta – Sejumlah media Israel dilaporkan menyoroti meningkatnya kasus dugaan spionase untuk Iran di wilayah Israel, menyusul terungkapnya sejumlah perkara baru serta keluarnya dakwaan dan putusan pengadilan dalam perkara-perkara sebelumnya. Perkembangan tersebut disebut telah mendorong aparat keamanan Israel untuk memperingatkan kemungkinan masih adanya kasus spionase lain yang belum terungkap. Media Israel juga mengaitkan perkembangan tersebut dengan dugaan peningkatan upaya perekrutan individu oleh jaringan intelijen Iran.

Dalam perkara terbaru yang dikutip media Lebanon Al-Akhbar dari laporan media berbahasa Ibrani Yedioth Ahronoth, pasangan Timurlan Amshukov dan Elina Kochenirenko, yang berasal dari Ashkelon, didakwa melakukan sejumlah tugas untuk Iran pada April dan Juli 2026. Menurut laporan tersebut, tugas mereka mencakup pengawasan, pengambilan gambar, pembuntutan, serta pengumpulan informasi mengenai pejabat keamanan dan sejumlah fasilitas sipil maupun militer. Sebagai imbalannya, mereka disebut menerima pembayaran dalam bentuk mata uang kripto. Klaim mengenai perkara tersebut perlu dipahami sebagai tuduhan dalam proses hukum, bukan bukti bahwa seluruh tuduhan telah terbukti di pengadilan.

Menurut laporan yang sama, pasangan tersebut diduga mengambil gambar sejumlah bangunan tempat tinggal di Ashdod, Beersheba, dan Haifa. Mereka juga disebut berusaha mengidentifikasi dan mendokumentasikan orang-orang tertentu, termasuk seorang pegawai perusahaan industri pertahanan dan seorang personel keamanan. Selain itu, mereka diduga memotret pusat komersial Ramat Aviv, termasuk pintu keluar darurat dan area yang disebut tidak terjangkau kamera pengawas, serta sebuah rumah pribadi di Kadima-Tzoran.

Laporan media Israel juga menyebut adanya pengambilan gambar di kawasan Eilat, termasuk pantai, pelabuhan, dan wilayah perairan di sekitarnya. Kedua tersangka bahkan dituduh berusaha mendekati sebuah pelabuhan militer dan pangkalan angkatan laut untuk mengambil gambar kapal. Mereka juga disebut mendokumentasikan kawasan Gunung Herzl di Yerusalem, termasuk jalur keluar-masuk dan personel yang ditempatkan di kawasan tersebut.

Kasus tersebut muncul di tengah serangkaian perkara lain yang oleh otoritas Israel dikaitkan dengan dugaan aktivitas intelijen Iran. Salah satunya adalah perkara Yaakov Perl, yang menurut laporan Channel 12 Israel diduga menerima sekitar 15.000 dolar AS untuk menjalankan tugas bagi intelijen Iran. Tugas yang dituduhkan kepadanya antara lain mengambil gambar rumah mantan Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF) Herzi Halevi, serta berusaha mendekati kediaman Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir untuk mengumpulkan informasi mengenai sistem pengamanannya. Rincian mengenai perkara ini juga bersumber terutama dari laporan media Israel dan harus dibedakan dari fakta yang telah dipastikan melalui putusan pengadilan.

Dalam perkara lainnya, Artyom Zolotreib dilaporkan dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara melalui kesepakatan pengakuan bersalah setelah dinyatakan bersalah atas kerja sama intelijen dengan Iran. Menurut Channel 12, Zolotreib telah berhubungan selama berbulan-bulan dengan pihak-pihak yang disebut sebagai agen intelijen Iran dan menerima ribuan dolar untuk menjalankan berbagai tugas. Sementara itu, Amir Titi, seorang pengemudi ambulans berusia 34 tahun dari wilayah Galilea, juga disebut menghadapi tuduhan melakukan tugas-tugas keamanan untuk Iran, termasuk merekam kunjungan Presiden Israel Isaac Herzog ke sebuah rumah sakit di Nahariya serta mendokumentasikan kawasan Amikam, yang dilaporkan pernah menjadi tempat tinggal mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant.

Perkembangan di Mossad

Persoalan tersebut juga berlangsung bersamaan dengan perubahan besar di dalam Mossad, badan intelijen luar negeri Israel. Pada awal Juni 2026, Roman Gofman resmi mengambil alih jabatan kepala Mossad dari David Barnea. Sebelum pengangkatannya, Mahkamah Agung Israel menyetujui pencalonan Gofman setelah menolak petisi yang menentang pengangkatannya.

Tidak lama setelah menjabat, Gofman melakukan perubahan pada jajaran pimpinan Mossad. Media Israel melaporkan bahwa wakil kepala Mossad yang hanya diidentifikasi sebagai “A” diberhentikan dari jabatannya. Pejabat tersebut sebelumnya dilaporkan memiliki tanggung jawab langsung atas portofolio Iran dan bahkan dianggap sebagai salah satu kandidat penerus Barnea. Mossad secara resmi menjelaskan pergantian tersebut sebagai bagian dari pembentukan tim kepemimpinan baru oleh Gofman.

Sejumlah laporan media kemudian mengaitkan pergantian tersebut dengan evaluasi terhadap program Mossad yang berfokus pada Iran. The National, misalnya, melaporkan bahwa pejabat yang diberhentikan tersebut sebelumnya memimpin sebuah program bernilai sekitar satu miliar shekel yang menargetkan pemerintah Iran dan oleh sejumlah sumber dinilai tidak berhasil. Namun, alasan resmi yang disampaikan Mossad adalah restrukturisasi kepemimpinan, sehingga klaim bahwa pemecatan tersebut secara langsung merupakan hukuman atas “kegagalan operasi terhadap Iran” masih harus diperlakukan sebagai interpretasi media, bukan fakta resmi yang telah dikonfirmasi.

Perubahan tersebut menjadi semakin penting karena Gofman memiliki latar belakang yang berbeda dari banyak pimpinan sebelumnya. Ia sebelumnya menjabat sebagai sekretaris militer Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan bukan berasal dari karier panjang di Mossad. Pengangkatannya sendiri telah menjadi kontroversi dan mendapat tantangan hukum, meskipun Mahkamah Agung akhirnya tidak menemukan dasar yang cukup untuk membatalkan pengangkatannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *