Gaza, Purna Warta – Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan bahwa jumlah total korban syahid di Jalur Gaza telah mencapai 72.961 orang seiring berlanjutnya agresi rezim Zionis Israel terhadap wilayah tersebut.
Menurut pernyataan kementerian itu, selama 48 jam terakhir sebanyak 5 jenazah syuhada dan 49 korban luka telah dibawa ke rumah-rumah sakit di Gaza.
Sejak diumumkannya gencatan senjata pada 11 Oktober 2025 (19 Mehr 1404), tercatat 951 orang gugur dan 2.984 lainnya mengalami luka-luka.
Dalam periode yang sama, tim penyelamat juga berhasil mengevakuasi 782 jenazah syuhada dari bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan.
Dengan memasukkan jumlah korban yang baru ditemukan tersebut, total korban syahid di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 (15 Mehr 1402) mencapai 72.961 orang, sementara jumlah korban luka tercatat sebanyak 173.092 orang.
Sementara itu, organisasi non-pemerintah Eastern Christian Initiative (ICO) yang berbasis di Austria menyatakan bahwa kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza telah mencapai tingkat yang sangat kritis. Penduduk wilayah tersebut saat ini menghadapi kekurangan parah bahan pangan, air bersih, serta layanan kesehatan.
Organisasi tersebut, mengutip laporan sebuah lembaga amal yang beroperasi di wilayah pendudukan, menyebutkan bahwa pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza hanya dilakukan secara terbatas dan tidak merata. Dalam sejumlah kasus, bantuan yang dapat didistribusikan hanya berupa susu formula bagi bayi dan balita, bahan makanan pokok, serta perlengkapan kebersihan.
Menurut laporan tersebut, para aktivis hak asasi manusia di Gaza menggambarkan kondisi kehidupan masyarakat sebagai sesuatu yang sulit dibayangkan. Para dokter juga memperingatkan meningkatnya risiko penyebaran berbagai penyakit serius, bahkan sebagian di antaranya menyebut kemungkinan merebaknya penyakit menular berbahaya.
Lembaga bantuan itu menambahkan bahwa kelangkaan air minum yang aman telah menjadi salah satu tantangan paling serius di Gaza, dengan anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak.
Menurut organisasi tersebut, banyak warga terpaksa menempuh perjalanan jauh hanya untuk memperoleh air, sementara air yang tersedia dalam banyak kasus tidak memenuhi standar keamanan untuk dikonsumsi.


