Al-Quds, Purna warta – Menurut laporan Kantor Berita Quds al-Ikhbariyah, Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza dalam pernyataan terbarunya merilis data terkini mengenai korban syahid dan luka-luka akibat agresi militer rezim Zionis Israel sejak 7 Oktober 2023 hingga saat ini.
Berdasarkan keterangan kementerian tersebut, sejak dimulainya agresi Israel terhadap Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, sebanyak 71.660 warga Palestina telah gugur sebagai syuhada. Selain itu, jumlah total korban luka akibat serangan-serangan tersebut telah mencapai 171.419 orang.
Kementerian Kesehatan Gaza juga menyampaikan bahwa dalam beberapa jam terakhir, jenazah 3 orang syahid telah dibawa ke rumah sakit di Jalur Gaza, sementara 20 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang terus berlangsung. Hingga kini, ribuan warga Palestina lainnya masih dinyatakan hilang dan diyakini tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat pengeboman.
Kementerian tersebut menambahkan bahwa sejak diberlakukannya gencatan senjata pada 11 Oktober 2025, tercatat sebanyak 486 orang telah gugur sebagai syuhada dan 1.341 orang lainnya terluka. Selain itu, selama periode tersebut, sebanyak 714 jenazah berhasil dievakuasi dari bawah puing-puing bangunan.
Di tengah terus meningkatnya jumlah korban, organisasi-organisasi kemanusiaan internasional memperingatkan memburuknya kondisi kesehatan dan kemanusiaan di Jalur Gaza akibat kehancuran infrastruktur medis, kelangkaan obat-obatan, serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dasar. Banyak rumah sakit dilaporkan beroperasi jauh di atas kapasitas, sementara tenaga medis bekerja dalam kondisi darurat yang ekstrem.
Sementara itu, berbagai pihak internasional kembali menyerukan gencatan senjata menyeluruh dan permanen, serta pembukaan jalur bantuan kemanusiaan tanpa hambatan ke Jalur Gaza. Namun, laporan lapangan menunjukkan bahwa serangan udara dan darat masih terus berlanjut di sejumlah wilayah, menyebabkan bertambahnya korban sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, serta memperparah krisis pengungsian dan kehancuran total kawasan permukiman di wilayah tersebut.


