Al-Quds, Purna Warta – Kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Israel menyebar di berbagai wilayah Gaza, sementara milisi yang terkait dengan Daesh beroperasi di bawah kendali militer Israel di tengah perang yang masih berlangsung di wilayah Palestina yang berada dalam kepungan tersebut.
Israel terus memberikan dukungan finansial dan militer kepada kelompok-kelompok kriminal, pengedar narkoba, dan para tentara bayaran lainnya di Gaza untuk melakukan kejahatan perang di wilayah tersebut atas nama militer rezim pendudukan, demikian menurut sebuah laporan.
Menurut investigasi yang diterbitkan surat kabar Israel Haaretz, saat ini terdapat lima kelompok bersenjata terkemuka yang beroperasi di Gaza di bawah kendali militer Israel.
Kelompok-kelompok tersebut ditempatkan di Beit Hanoun, Shujaiyeh, Deir al-Balah, Khan Yunis, dan Rafah.
Laporan tersebut menemukan bahwa kelompok-kelompok bersenjata itu kini berfungsi sebagai “lengan operasional” militer Israel dan badan intelijen dalam negeri Israel, yang dikenal sebagai Shin Bet, di Gaza.
Para tokoh utama dalam kelompok-kelompok tersebut bukanlah pemimpin politik ataupun alternatif yang kredibel terhadap Hamas. Sebaliknya, mereka merupakan mantan pemimpin geng dan pengedar narkoba yang memanfaatkan kekacauan di Gaza demi kepentingan mereka sendiri, menurut sejumlah pejabat senior militer Israel.
“Israel, IDF [militer Israel], dan Shin Bet mengirim milisi bersenjata yang telah dilatih untuk melakukan kejahatan perang, sementara saya yang harus melindungi mereka selama operasi agar mereka tidak terluka,” Haaretz mengutip pernyataan seorang perwira Angkatan Udara Israel yang melacak para anggota kelompok bersenjata tersebut menggunakan drone bersama seorang agen Shin Bet.
Investigasi tersebut, yang didasarkan pada keterangan perwira Israel dan data PBB, menemukan bahwa kelompok-kelompok bersenjata itu menembaki warga sipil, menjarah dan membakar rumah-rumah, serta secara paksa memindahkan keluarga-keluarga dari tempat-tempat pengungsian.
Menurut laporan tersebut, skema ini menciptakan kondisi yang dapat memicu pembunuhan yang mengingatkan pada pembantaian Sabra dan Shatila, ketika milisi yang didukung Israel membantai hingga 3.500 warga sipil Palestina dan Lebanon di dua kamp pengungsi di Beirut pada 1982.
Pasukan Israel menutup kawasan tersebut dan menyaksikan pembantaian berlangsung, sementara mereka menembakkan suar penerangan untuk membantu para milisi menemukan target mereka.
Sumber-sumber dari Gaza mengonfirmasi bahwa militer Israel memberikan dukungan artileri dan perlindungan drone kepada milisi selama serangan mereka.
Kelompok-kelompok bersenjata tersebut menggunakan tanda panggilan militer Israel, tercantum dalam peta pengarahan operasi, ditandai dalam sistem komando, dan memiliki pangkalan yang berdekatan dengan pos-pos militer Israel.
Taktik tersebut dibangun berdasarkan dukungan Israel sebelumnya terhadap Yasser Abu Shabab, pemimpin yang terkait dengan Daesh dan kini telah meninggal dunia, yang dikenal karena terlibat dalam penjarahan bantuan serta penyerangan terhadap warga sipil Palestina.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengakui bahwa kelompok Abu Shabab dipersenjatai oleh Israel.
Seorang sumber Palestina mengatakan kepada Kan News pada November tahun lalu bahwa para anggota kelompok Abu Shabab bahkan telah berpartisipasi dalam pertemuan dengan pejabat senior Amerika Serikat.
Abu Shabab muncul selama perang genosida yang berlangsung selama dua tahun sebagai pemimpin kelompok yang disebut “Popular Forces”. Kelompok tersebut menjarah bantuan dan membunuh atau menculik warga sipil Palestina serta anggota Hamas, sekaligus bekerja sama dengan pasukan Israel.
Ia dilaporkan dipersenjatai dan diberikan kebebasan operasional di bawah perlindungan militer Israel.
Popular Forces milik Abu Shabab menghadapi kecaman luas dari berbagai faksi Palestina, yang mengecam kelompok tersebut sebagai “pengkhianat” dan mengaitkannya dengan Israel maupun Daesh.
Sebuah laporan internal PBB pada 2024 mengidentifikasi kelompok tersebut sebagai salah satu aktor utama di balik “penjarahan sistematis dan besar-besaran” terhadap konvoi bantuan kemanusiaan di Gaza.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, perang genosida Israel telah menyebabkan lebih dari 73.417 warga Palestina tewas dan lebih dari 174.360 lainnya terluka.


