Purna Warta – Ramadhan adalah bulan di mana keluarga biasanya berkumpul di meja sahur dan berbuka untuk beribadah bersama di bawah satu atap. Namun, bagi keluarga Ihab Shaabin di Palestina, tidak ada lagi atap atau dinding yang tersisa—hanya puing-puing rumah yang sebelumnya menjadi tempat berlindung mereka sebelum dihancurkan oleh buldoser tentara Israel. Mereka pun harus melewati Ramadhan dalam keadaan tunawisma.
Baca juga: Jumlah Syuhada Perang Gaza Mencapai 50.912 Orang
Ihab, kepala keluarga, bahkan setelah sebulan rumahnya di “Deir Ibzi'” (barat Ramallah) dihancurkan oleh tentara pendudukan Zionis, masih belum bisa mengunjungi reruntuhan rumahnya. Rezim pendudukan telah mengubah hasil jerih payah 10 tahun hidupnya—yang dihabiskan untuk merenovasi dan membangun rumah—menjadi tumpukan puing dan debu.
Dalam wawancara dengan Tasnim, ia menceritakan peristiwa pahit yang menimpa dirinya dan keluarganya:
“Pasukan Zionis datang pada pukul 7 pagi, 11 Februari 2025, tanpa pemberitahuan resmi atau peringatan dari pengadilan. Mereka langsung menghancurkan rumah saya. Usaha 10 tahun saya dan keluarga hancur dalam sekejap.”
Meski peristiwa ini sangat menyakitkan, ia tetap bersikeras:
“Lebih baik hidup di tenda di tanah air sendiri daripada berpikir untuk meninggalkan negara kita.”
Sementara itu, Natalia, putri keluarga, dengan sedih menceritakan saat ia pulang sekolah dan melihat rumahnya dihancurkan di depan matanya:
“Saya melihat jeep tentara Israel dekat sekolah dan mengira itu operasi biasa. Tapi ketika sampai rumah, saya terkejut melihat buldoser di atas reruntuhan. Saya berteriak, menangis, dan memaki para penjajah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Saya mencoba membantu ibu mengeluarkan barang-barang, tapi seorang tentara mengusir saya… Kami selalu berkumpul di rumah ini, menciptakan kenangan indah, tapi semuanya hancur dalam sekejap.”
Baca juga: Analis Inggris: Pembantaian di Gaza Kelanjutan dari Kolonialisme yang Dipimpin Inggris
Di tengah kepedihan ini, Wadi’a Shaheen, sang ibu, mengajarkan ketabahan kepada keluarganya—agar mereka bisa membangun kembali apa yang dihancurkan oleh penjajah.
“Tidak ada yang bisa memahami penderitaan ini kecuali mereka yang mengalaminya. Rasanya seperti kehilangan anakmu sendiri, terutama ketika semua kerja keras bertahun-tahun musnah dalam sehari. Kamu merasa harus memulai dari nol lagi.”
Meski tunawisma, ia bersikeras:
“Saya ingin tinggal di sini, di tanah ini. Jika bisa, saya akan membangun rumah yang sama persis di tempat ini.”
Di tengah gelombang penghancuran rumah-rumah warga Palestina di Tepi Barat, perempuan Palestina tetap menjadi tiang kokoh yang tidak mudah patah. Penjajah mungkin ingin mengusir keluarga Shaabin, tetapi keteguhan hati mereka—dan rakyat Palestina lainnya—telah menggagalkan semua kebijakan pengusiran rezim Zionis.


