Al-Quds, Purna Warta – Organisasi jurnalis terbesar di dunia menyatakan bahwa Israel bertanggung jawab atas kematian ratusan profesional media di Jalur Gaza sejak rezim tersebut melancarkan perang genosida terhadap wilayah pesisir itu pada Oktober 2023, yang menandai periode paling katastrofik dalam sejarah jurnalisme.
Pada hari Rabu, Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) mendesak serikat-serikat jurnalis dan asosiasi profesional di seluruh dunia agar mendorong pemerintah masing-masing untuk mengizinkan anggota pers dari Gaza menerima perawatan medis di luar negeri.
IFJ mencatat bahwa tiga tahun setelah dimulainya perang genosida Israel terhadap Jalur Gaza, lebih dari 74.000 warga Palestina kehilangan nyawa. Selain itu, penduduk sipil menghadapi krisis kemanusiaan yang parah, dengan lebih dari 2,1 juta orang terpaksa mengungsi.
IFJ menyerukan kepada otoritas Israel untuk memungkinkan evakuasi kemanusiaan dan memberikan akses tanpa hambatan kepada perwakilan media asing ke Gaza.
Federasi ini juga menyoroti kasus-kasus jurnalis yang membutuhkan intervensi medis, antara lain fotografer Mohammed Fayeq Abu Mustafa yang telah lumpuh dari pinggang ke bawah selama lebih dari setahun setelah serangan yang menargetkan jurnalis di dekat Rumah Sakit Nasser di kota Khan Younis, Gaza selatan. Ia telah menjalani tujuh kali operasi dan membutuhkan evakuasi segera untuk mendapatkan perawatan medis yang diperlukan.
IFJ mencatat bahwa Sindikat Jurnalis Palestina (PJS) telah mendokumentasikan banyak kasus yang menegaskan pentingnya layanan kesehatan khusus dan evakuasi untuk pengobatan di luar negeri.
“Solidaritas internasional sangat penting pada saat ini. Sebagai jurnalis, kita harus berdiri bersama dan saling mendukung,” kata Sekretaris Jenderal IFJ Anthony Bellanger.
Ia menyerukan agar serikat dan asosiasi jurnalis mempengaruhi pemerintah masing-masing untuk memfasilitasi perawatan medis di luar negeri bagi jurnalis Gaza yang cedera dan sakit.
“Kami sangat mendesak afiliasi kami untuk menekan pemerintah mereka agar menerima jurnalis dan pekerja media Gaza guna memberikan perawatan medis segera bagi mereka yang membutuhkan,” ujar Bellanger.
Ismail al-Thawabta, Direktur Kantor Media Pemerintah Gaza, menyatakan bahwa pasukan Israel telah membunuh 263 pekerja media sejak Oktober 2023, dengan 23 masih ditahan dan tiga hilang.
Penghancuran lebih dari 80 persen fasilitas media memaksa jurnalis melakukan kegiatan pelaporan dari tempat penampungan pengungsi sementara dan area rumah sakit, sering kali tanpa akses listrik, koneksi internet, atau peralatan pelindung.
Sindikat Jurnalis Palestina menggambarkan kondisi tersebut sebagai “jurnalisme tanpa dinding”, yang menandakan kehancuran total fasilitas fisik sementara jurnalis terus menjalankan tugas profesional mereka di tengah kehancuran yang meluas.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 175.000 orang lainnya sejak Oktober 2023.


