Gaza, Purna Warta – Gerakan Hamas pada hari Minggu (25/3) mengutuk keras kelanjutan agresi rezim Zionis terhadap Lebanon dan Suriah, serta agresi AS terhadap Yaman.
Hamas menegaskan bahwa kelanjutan pemboman terhadap Lebanon, Suriah, dan Yaman, bersamaan dengan kejahatan sehari-hari di Jalur Gaza dan kejahatan rezim pendudukan di Tepi Barat, menuntut sikap bersatu dari dunia Arab dan Islam.
Gerakan ini menambahkan, “Kami menyatakan solidaritas penuh dengan Yaman, Lebanon, dan Suriah, serta memberikan penghormatan kepada semua kelompok perlawanan yang membela Palestina dan martabat umat Arab dan Islam.”
Rezim Zionis pada dini hari Selasa (18 Maret), dengan lampu hijau dan konsultasi dari AS, memulai kembali perang dan kejahatannya terhadap Gaza. Mereka menargetkan rumah-rumah penduduk, sekolah, dan tempat penampungan pengungsi dengan serangan yang sangat gencar.
Namun, pemerintah AS justru menuduh Hamas sebagai penyebab eskalasi kekerasan di Timur Tengah. Dalam sebuah pernyataan, AS mendukung rezim Zionis dan mengklaim bahwa Hamas memilih perang dan bertanggung jawab atas situasi ini.
Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri rezim Zionis, yang berusaha menghindari pengadilan dan mempertahankan kekuasaannya, telah melanggar gencatan senjata dengan berbagai alasan. Dia berusaha mendapatkan keuntungan lebih besar dan melucuti senjata Hamas dengan mengusulkan perpanjangan tahap pertama tanpa jaminan gencatan senjata permanen. Namun, Hamas tidak menyerah pada tuntutan rezim Zionis dan menegaskan komitmennya pada kesepakatan sebelumnya.
Sehubungan dengan ini, serangan kekerasan rezim Zionis terhadap Gaza telah memicu gelombang protes di dalam wilayah pendudukan.
Keluarga tahanan Zionis juga, yang khawatir akan nyawa tahanan mereka, memprotes kecurangan rezim Zionis dan kegagalannya mencapai kesepakatan dengan Hamas untuk membebaskan tahanan dan menghentikan serangan. Mereka menyatakan Netanyahu dan Trump bertanggung jawab atas konsekuensi perang ini.
Seruan untuk Solidaritas dan Perlawanan
Hamas menyerukan kepada dunia Arab dan Islam untuk bersatu dalam menghadapi agresi Zionis-AS. Mereka menekankan bahwa hanya dengan persatuan, kejahatan dan penindasan terhadap rakyat Palestina dan negara-negara tetangga dapat dihentikan.
Gerakan ini juga mengingatkan bahwa perlawanan terhadap pendudukan dan agresi adalah hak setiap bangsa, dan bahwa rakyat Palestina akan terus berjuang untuk kemerdekaan dan keadilan.
Dengan situasi yang semakin memanas di kawasan, Hamas menegaskan bahwa solidaritas dan kerja sama antara negara-negara Arab dan Islam adalah kunci untuk mengakhiri penderitaan rakyat Palestina dan memastikan masa depan yang lebih baik bagi seluruh wilayah.


