Al-Quds, Purna Warta – Hamas mengecam keras apa yang disebutnya sebagai “pembantaian mengerikan” terhadap perempuan dan anak-anak Palestina, ketika Israel terus melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza meskipun telah ada kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Menurut pejabat kesehatan setempat, serangan udara Israel pada Sabtu menewaskan sedikitnya tujuh warga Palestina, termasuk dua perempuan, di Kota Gaza.
Petugas medis juga melaporkan bahwa 15 orang lainnya, termasuk anak-anak, mengalami luka-luka setelah serangan tersebut menghantam sebuah kawasan tenda pengungsian besar yang berada di pusat Kota Gaza.
Serangan itu terjadi ketika para mediator kembali memulai perundingan di Kairo, Mesir, bersama Hamas dan sejumlah faksi Palestina lainnya guna membahas upaya menjaga keberlangsungan kesepakatan gencatan senjata.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui Telegram, juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan bahwa rezim Israel “telah melakukan pembantaian mengerikan terhadap anak-anak dan perempuan” yang menurutnya merupakan bagian dari eskalasi berkelanjutan dalam perang terhadap warga sipil.
Merujuk pada perundingan yang berlangsung di Kairo, Qassem mengatakan bahwa “pihak pendudukan sedang berupaya merusak dan menggagalkan kesepakatan” dengan terus melanjutkan serangan terhadap wilayah Gaza.
Gencatan senjata yang dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejauh ini belum mampu menghentikan seluruh serangan Israel, sementara Israel disebut masih menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan Israel sejak dimulainya gencatan senjata pada Oktober lalu telah menyebabkan sedikitnya 950 orang tewas dan 2.935 lainnya terluka.
Pada Sabtu, Mesir menjadi tuan rumah putaran baru perundingan gencatan senjata yang dihadiri para pemimpin Hamas dan sejumlah faksi Palestina lainnya. Menurut sumber Hamas dan pihak-pihak yang dekat dengan proses negosiasi, pembicaraan tersebut diperkirakan berlangsung selama beberapa hari.
Hazem Qassem mengatakan bahwa fokus utama perundingan adalah implementasi tahap pertama kesepakatan oleh Israel serta upaya mencapai titik temu untuk melanjutkan ke tahap kedua.
Ia menambahkan bahwa Hamas juga akan membahas langkah-langkah untuk “menghentikan serangan Israel yang terus berulang terhadap Jalur Gaza dan menetapkan mekanisme yang tepat untuk memasuki tahap kedua kesepakatan”.
Tahap pertama gencatan senjata mencakup pembebasan sandera Israel terakhir yang ditahan di Gaza sebagai imbalan atas pembebasan tahanan Palestina.
Namun, transisi menuju tahap kedua kesepakatan, yang direncanakan mencakup penarikan bertahap pasukan militer Israel dan pelucutan senjata Hamas, telah mengalami kebuntuan selama berbulan-bulan.
Sebelumnya, anggota biro politik Hamas, Husam Badran, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kelompok perlawanan tersebut tidak akan menyerahkan senjatanya saat ini. Namun, menurutnya, Hamas bersedia berkomitmen pada pembentukan pasukan kepolisian Palestina di masa mendatang yang beroperasi di bawah komite teknokrat yang mengelola Gaza, serta menjadi satu-satunya lembaga yang secara terbuka memiliki senjata.
“Kami tidak berbicara tentang menyerahkan senjata; kami berbicara setidaknya mengenai tidak terlihatnya senjata selain senjata resmi milik kepolisian Palestina,” ujar Badran.
Ia menambahkan bahwa rincian mengenai persoalan tersebut akan dibahas dalam kerangka nasional Palestina.
Menurut otoritas kesehatan Gaza, sedikitnya 73.000 warga Palestina telah tewas sejak Israel melancarkan perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023.


