Al-Quds, Purna Warta – Mantan Menteri Perang rezim Zionis menegaskan bahwa upaya membendung Iran melalui pengepungan sangat sulit dilakukan. Ia menyatakan bahwa anggapan mengenai kemungkinan menjatuhkan pemerintahan Iran dengan menyerang fasilitas kelistrikan menunjukkan ketidaktahuan terhadap realitas di lapangan.
Ehud Barak, mantan Menteri Perang rezim Zionis, menyatakan bahwa membatasi Iran melalui pengepungan merupakan hal yang sangat sulit.
Sebagaimana dikutip Fars dari Anadolu, ia mengatakan bahwa kerugian yang ditimbulkan terhadap ekonomi global terus berlangsung dan semakin menumpuk setiap pekannya.
Barak menambahkan bahwa siapa pun yang berpikir sistem pemerintahan Iran dapat dijatuhkan dengan menargetkan sektor energi, tidak memahami situasi yang sebenarnya. Menurutnya, Iran tidak akan mengubah posisinya hanya karena serangan terhadap pembangkit listrik.
Mantan Perdana Menteri Israel itu juga menggambarkan pemilu mendatang di wilayah pendudukan sebagai pemilu yang “menentukan nasib” dan memperingatkan adanya “ancaman serius terhadap kesehatan dan transparansi” proses pemilu tersebut.
Ehud Barak menyebut Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, berada dalam kondisi “putus asa”, dan mengibaratkannya sebagai “hewan berbakat yang terjebak dalam perangkap”. Ia mengatakan bahwa Netanyahu tidak akan ragu melakukan apa pun demi memenangkan pemilu.
Barak juga menambahkan bahwa ia tidak menutup kemungkinan Netanyahu akan mengganggu hasil pemilu apabila gagal meraih kemenangan dalam pemilihan umum mendatang.
Dalam perkembangan terkait, perdebatan internal di Israel mengenai strategi menghadapi Iran semakin menguat di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Sejumlah mantan pejabat militer dan keamanan Israel dilaporkan memiliki pandangan berbeda mengenai efektivitas tekanan ekonomi, operasi militer, maupun strategi diplomatik terhadap Teheran.
Sementara itu, hubungan antara Iran dan Barat tetap berada dalam situasi sensitif, terutama terkait program nuklir Iran, sanksi ekonomi, serta ketegangan keamanan di Timur Tengah. Berbagai negara Barat masih mempertahankan tekanan ekonomi terhadap Teheran, namun para pengamat menilai bahwa Iran selama bertahun-tahun telah membangun kemampuan untuk beradaptasi terhadap sanksi dan tekanan eksternal.
Di sisi lain, situasi politik domestik Israel juga menjadi sorotan menyusul meningkatnya polarisasi internal, demonstrasi publik, dan kritik terhadap pemerintahan Netanyahu. Beberapa analis menilai bahwa isu keamanan regional, termasuk Iran dan Gaza, kerap menjadi faktor penting dalam dinamika politik dan persaingan elektoral di Israel.
Sejumlah media Israel juga melaporkan kekhawatiran sebagian kalangan oposisi terhadap stabilitas institusi demokrasi dan independensi lembaga negara menjelang pemilu mendatang. Pernyataan Barak dianggap mencerminkan meningkatnya ketegangan politik internal di tengah tantangan keamanan dan ekonomi yang dihadapi Israel.


