Gaza, Purna Warta – Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Kesehatan Gaza mengungkapkan bahwa serangan tersebut menargetkan unit bedah rumah sakit pada Minggu malam, menewaskan seorang remaja laki-laki dan seorang pasien lainnya yang tengah menjalani perawatan.
Hamas mengidentifikasi salah satu korban sebagai Ismail Barhoum, anggota biro politik kelompok tersebut.
Kesaksian Dokter Relawan AS: “Ini Kejahatan Perang”
Feroze Sidhwa, seorang ahli bedah trauma asal California yang menjadi relawan di Rumah Sakit Nasser, mengungkapkan bahwa korban remaja tersebut adalah pasiennya.
“Dia seharusnya pulang besok. Jika saya sedang mengganti perbannya seperti yang saya rencanakan malam ini, saya mungkin juga sudah terbunuh. Menyerang rumah sakit adalah kejahatan perang, dan ini harus dihentikan,” kata Sidhwa, yang selamat dari serangan Israel.
Beberapa jam sebelum serangan, Sidhwa dan Mark Perlmutter, seorang dokter bedah ortopedi sukarelawan, berbicara kepada CNN mengenai kekejaman yang dialami warga Gaza akibat serangan Israel.
Perlmutter mengecam bagaimana media Barat menggambarkan situasi di Gaza, dengan menyatakan bahwa tindakan tersebut turut bertanggung jawab atas tewasnya lebih dari 100.000 anak-anak yang diakui telah meninggal atau masih tertimbun reruntuhan.
Perang yang Memakan Puluhan Ribu Nyawa
Israel melancarkan serangan besar-besaran di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023. Namun, meski telah menewaskan 50.021 warga Palestina, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 113.274 orang, Israel gagal mencapai tujuannya.
Setelah menerima persyaratan gencatan senjata yang diajukan Hamas pada 19 Januari 2025, Israel justru melanggar kesepakatan itu secara sepihak dua bulan kemudian dan melanjutkan serangan brutalnya di Gaza.
Dalam wawancara dengan Democracy Now! pada 18 Maret, Sidhwa mengungkapkan kondisi mengenaskan pasien yang ia tangani. “Sungguh memilukan melihat penderitaan ini terus berlanjut,” ujarnya.
Mengkritik ekspor senjata AS ke Israel, ia menambahkan bahwa Gaza kini menghadapi “gelombang pembantaian massal yang ekstrem dan tak masuk akal, yang sebagian besar menargetkan anak-anak, pengungsi, dan orang-orang yang terperangkap di kamp konsentrasi tempat mereka dilahirkan.”


