Purna Warta – Juru bicara kemenlu China enggan untuk menyebut serangan terakhir Hamas sebagai tindakan terorisme. Hal itu ia lakukan saat disodori pertanyaan yang menyudutkan oleh sejumlah wartawan.
Dalam sebuah konferensi pers, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, ketika ditanya apakah China menganggap serangan Hamas terhadap Israel sebagai “aksi teroris”, menolak memberikan jawaban positif atas pertanyaan tersebut. Pejabat Beijing tersebut menegaskan sikapnya tentang konflik yang terjadi saat ini antara kelompok perlawanan Palestina dan rezim Zionis.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa negaranya sangat prihatin dengan meningkatnya konflik dan pembunuhan warga sipil.
“Kami ingin konflik berakhir dan gencatan senjata antara kedua belah pihak, dan kami juga ingin komunitas internasional berperan dalam memulihkan perdamaian dan menenangkan situasi saat ini,” ucapnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China juga menanggapi pengiriman peralatan militer AS ke Israel: “Kami selalu percaya bahwa dialog dan negosiasi adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini.”
Mao Ning menegaskan Beijing ingin semua pihak mencegah eskalasi konflik.
Menanggapi pertanyaan Manbi tentang dampak serangan Hamas baru-baru ini terhadap upaya Tiongkok untuk menciptakan rekonsiliasi di Timur Tengah, ia mengatakan: “Dimulainya kembali hubungan diplomatik antara Iran dan Arab Saudi (yang diprakarsai oleh China) mengajarkan kita bahwa sebesar apa pun ketegangan, betapa pun sulit dan rumitnya, akan dapat diselesaikan melalui tindakan yang saling menghormati dan dialog.”
Pasukan perlawanan Palestina telah memulai operasi komprehensif dan unik mereka dari Gaza (Selatan) melawan posisi Israel di wilayah pendudukan mulai Sabtu pagi (7/10). Sebuah operasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 75 tahun sejarah perampasan pendudukan dan berhasil mengejutkan Israel. Operasi itu sejauh ini telah menyebabkan ratusan orang tewas di kubu Israel.
Operasi perlawanan Palestina yang mengejutkan dan ekstensif di wilayah pendudukan berlanjut pada hari ketiga, sementara kekuatan kelompok perlawanan lainnya, seperti Jihad Islam dan Arin al-Asud, juga bergabung dengan pejuang Hamas, dan Hizbullah, kemarin.


