Purna Warta – Menteri Pertahanan Mali, Jenderal Sadio Camara, tewas dalam serangan yang dilancarkan pasukan jihadis dan pemberontak untuk merebut kota-kota dan pangkalan militer di seluruh negeri, menurut seorang perwira militer dan dua sumber lainnya.
Belum ada komentar langsung dari pemerintah Mali.
“Sayangnya, Menteri Pertahanan, Jenderal Sadio Camara, tewas dalam serangan yang menargetkan rumahnya kemarin,” kata seorang pejabat militer Mali yang berbicara dengan syarat anonim.
Dua orang lainnya, seorang pemimpin masyarakat sipil dan seorang anggota keamanan, mengkonfirmasi informasi tersebut.
Para pemberontak pada hari Sabtu bergabung dengan militan Jihadis dalam melancarkan salah satu serangan terkoordinasi terbesar terhadap tentara Mali di ibu kota dan beberapa kota lainnya yang menyebabkan setidaknya 16 orang terluka.
Kelompok separatis berjuang selama bertahun-tahun untuk menciptakan negara merdeka di Mali utara, sementara militan Jihadis yang bersekutu dengan al-Qaeda dan kelompok ISIS telah memerangi pemerintah selama lebih dari satu dekade.
Seorang juru bicara Front Pembebasan Azawad (FLA) yang dipimpin Tuareg, sebuah kelompok separatis, mengatakan pasukan Korps Afrika Rusia dan militer Mali telah mundur dari kota tersebut setelah tercapai kesepakatan untuk keluar secara damai.
“Kidal dinyatakan bebas,” kata juru bicara FLA, Mohamed El Maouloud Ramadan.
Tentara Mali tidak menanggapi permintaan komentar, tetapi dalam pernyataan sebelumnya mengatakan mereka “sedang melacak kelompok-kelompok bersenjata teroris di kota Kidal.”
Para separatis berjuang selama bertahun-tahun untuk menciptakan negara merdeka di Mali utara. Kota Kidal telah lama menjadi markas sekaligus benteng pemberontakan sebelum akhirnya direbut oleh pasukan pemerintah Mali dan tentara bayaran Rusia pada tahun 2023.
Ini adalah pertama kalinya kelompok separatis bekerja sama dengan kelompok militan JNIM yang terkait dengan al-Qaeda. Kelompok militan JNIM ini mengaku bertanggung jawab atas serangan hari Sabtu di bandara internasional Bamako dan empat kota lainnya, termasuk Kidal, di Mali tengah dan utara.
“Operasi ini dilakukan dalam kemitraan dengan JNIM, yang juga berkomitmen untuk membela rakyat melawan rezim militer di Bamako,” kata Ramadan.
Wassim Nasr, seorang spesialis Sahel (Afrika Barat) dan peneliti senior di lembaga pemikir keamanan Soufan Center, mengatakan bahwa koordinasi antara kedua kelompok tersebut, serta seruan eksplisit agar militer Rusia pergi, adalah hal baru.
“Koordinasi, melakukan serangan di seluruh negeri pada saat yang sama, koordinasi nyata di tingkat militer tetapi juga di tingkat politik karena kedua kelompok tersebut mengakui bahwa mereka bekerja sama, ini adalah yang pertama kali terjadi” kata Nasr.
Juru bicara pemerintah Mali, Jenderal Issa Ousmane Coulibaly, mengatakan di televisi pemerintah pada Sabtu malam bahwa 16 orang terluka, termasuk warga sipil dan personel militer, dan beberapa militan tewas. Ia tidak menyampaikan jumlah korban tewas.
Gubernur distrik Bamako, Abdoulaye Coulibaly, mengumumkan pemberlakuan jam malam selama tiga hari, dari pukul 21.00 hingga 06.00.
Komunitas Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS) mengutuk serangan tersebut dan menyerukan kepada “semua negara, pasukan keamanan, mekanisme regional dan penduduk Afrika Barat hendaknya bersatu dan bergerak dalam upaya terkoordinasi untuk memerangi kejahatan ini.”
Para separatis menyerukan kepada Rusia untuk “mempertimbangkan kembali dukungannya terhadap junta militer di Bamako, yang tindakannya telah berkontribusi pada penderitaan penduduk sipil.”
Setelah kudeta militer, junta di Mali, Niger dan Burkina Faso beralih dari sekutu Barat ke Rusia untuk meminta bantuan dalam memerangi militan Jihadis. Namun, situasi keamanan memburuk akhir-akhir ini, dengan jumlah serangan militan yang melonjak drastis.
Pada tahun 2024, sebuah kelompok yang terkait dengan al-Qaeda mengklaim serangan terhadap bandara Bamako dan kamp pelatihan militer di ibu kota, menewaskan puluhan orang.
Ulf Laessing, kepala program Sahel di Yayasan Konrad Adenauer, mengatakan bahwa meskipun serangan tersebut merupakan pukulan besar bagi kredibilitas mitra Rusia Mali, JNIM kemungkinan tidak akan menguasai Bamako dalam waktu dekat karena penentangan dari penduduk setempat.
“Serangan-serangan ini merupakan pukulan besar bagi Rusia karena para tentara bayaran tidak memiliki informasi intelijen tentang serangan tersebut dan tidak mampu melindungi kota-kota besar. Mereka memperburuk konflik dengan tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan,” kata Laessing.


