Ljubljana, Purna Warta – PM Slovenia, Golob menyampaikan pernyataan tegas tersebut di Brussels pada hari Kamis, menjelang KTT Dewan Eropa.
“Kecuali UE mengambil tindakan konkret hari ini atau dalam dua minggu ke depan, maka setiap negara anggota, termasuk Slovenia dan negara-negara yang sepaham dengan kami, akan terpaksa mengambil langkah sendiri-sendiri,” tegasnya.
Golob menekankan bahwa anggota-anggota UE siap melangkah sendiri bukan hanya untuk menunjukkan solidaritas, tetapi juga untuk memberikan tekanan nyata kepada rezim Israel.
“Kami seharusnya bisa berbuat lebih banyak sejak dulu, tapi belum terlambat,” ujar PM Slovenia itu.
Dalam kritik tajam yang menusuk langsung ke jantung Eropa, ia menambahkan:
“Sayangnya, beberapa negara—bahkan negara-negara besar—lebih mementingkan kepentingan sendiri daripada hak asasi manusia.”
Sindiran ini jelas ditujukan kepada negara-negara seperti Jerman, Austria, Italia, Hungaria, Yunani, Rumania, dan Lituania yang secara terbuka menolak langkah tegas terhadap Israel.
Pernyataan Golob muncul di tengah meningkatnya tekanan dari negara-negara seperti Slovenia, Belgia, Irlandia, Prancis, Swedia, dan Spanyol yang mendukung pemberian sanksi kepada Tel Aviv atas perang genosida yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina.
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, bahkan secara blak-blakan menuntut sinyal tegas dan segera dikirimkan kepada rezim Zionis atas serangan brutal mereka di Gaza.
“Nggak masuk akal. Kita sudah menjatuhkan 18 paket sanksi ke Rusia atas invasi ke Ukraina. Tapi Eropa—dengan standar ganda—bahkan nggak sanggup ngebekukan Perjanjian Asosiasi dengan Israel, padahal Pasal 2 soal penghormatan terhadap hak asasi manusia jelas-jelas dilanggar terang-terangan,” kata Sanchez, nyolot tapi logis.
Fakta getirnya, setidaknya 56.259 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, tewas, dan 132.458 lainnya luka-luka akibat serangan brutal Israel ke Gaza sejak 7 Oktober 2023.
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sudah mengeluarkan surat perintah penangkapan pada bulan November lalu untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Tak cuma itu, Israel juga lagi menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait agresi brutalnya di Jalur Gaza yang terkepung.


