Paris, Purna Warta – Saham-saham Perancis dan obligasi pemerintah berkinerja buruk di pasar Eropa lainnya setelah meluasnya protes dan kekerasan selama akhir pekan meningkatkan kekhawatiran mengenai kemampuan negara tersebut untuk mengendalikan defisit anggaran yang besar.
Perancis, negara dengan perekonomian terbesar kedua di Zona Euro, sudah bergulat dengan lemahnya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya utang publik, sehingga pemerintahnya menghadapi tekanan yang semakin besar untuk memulihkan stabilitas fiskal di tengah kembali terjadinya kerusuhan sosial.
Reaksi pasar terutama terlihat pada obligasi pemerintah, di mana penurunan harga mendorong imbal hasil (yield) utang Perancis bertenor 10 tahun naik 8 basis poin menjadi 4,86 persen.
Sebagai perbandingan, imbal hasil obligasi 10-tahun Jerman, yang merupakan acuan bagi Zona Euro, tetap tidak berubah pada angka 3,41 persen, memperlebar kesenjangan antara biaya pinjaman Perancis dan Jerman menjadi 145 basis poin, yang merupakan level tertinggi dalam dua minggu.
Meskipun selisihnya telah menyempit dari hampir 160 basis poin pada awal bulan ini, biaya pinjaman Perancis tetap tinggi.
Pada awal bulan Oktober, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Perancis bertenor 10 tahun mencapai 4,99 persen, yang merupakan tingkat tertinggi sejak tahun 2002, mencerminkan kekhawatiran yang terus-menerus terhadap prospek fiskal negara tersebut.
Sementara itu, dampak ekonomi dari kerusuhan akhir pekan ini menjadi lebih jelas, dengan lebih dari 2.000 toko diyakini terkena dampak kekerasan di seluruh Perancis.
Alain Di Crescenzo, presiden Kamar Dagang, mengatakan kepada AFP bahwa total kerugian yang ditimbulkan diperkirakan mencapai “ratusan juta euro”.
Di Paris, polisi mengatakan 351 orang ditangkap pada hari Minggu sehubungan dengan kekerasan dan penjarahan di ibu kota.
Dalam sebuah pernyataan yang diposting di X, departemen kepolisian Paris mengatakan kelompok-kelompok yang sebagian besar terdiri dari anak muda telah berusaha menjarah dan merusak toko-toko, sehingga memicu penangkapan.
Departemen tersebut juga menyerukan “tanggapan tegas terhadap perilaku yang tidak dapat diterima tersebut”.
Kerusuhan ini menambah tantangan yang dihadapi pemerintah Perancis dalam upayanya mengatasi meningkatnya utang dan mengurangi defisit anggaran, sementara manuver politik menjelang pemilihan presiden tahun depan dapat mempersulit upaya memulihkan stabilitas ekonomi dan fiskal.


