New York, Purna Warta – Mantan Menlu Jerman, Annalena Baerbock, yang dikenal karena dukungannya terhadap Israel dan perang genosida di Jalur Gaza, akan segera menjabat sebagai presiden Majelis Umum PBB.
Baca juga: BDS Puji Parlemen Skotlandia karena Boikot Israel yang Melakukan Genosida
Pada hari Selasa, ia akan memulai tugasnya yang sebagian besar meliputi penyelenggaraan sesi pleno di antara 193 negara anggota PBB.
Baerbock akan dilantik sesaat sebelum Majelis Umum mengadakan debat umum ke-80.
Mantan Menlu Jerman itu akan menjabat di PBB selama satu tahun, di mana ia akan membantu mempersiapkan pemilihan Sekretaris Jenderal PBB yang baru tahun depan.
Pada bulan Juni lalu, politisi Jerman tersebut memperoleh 167 suara setelah pemungutan suara rahasia di markas besar PBB di New York.
Ia dituduh merebut jabatan diplomat Jerman Helga Schmid, karena Berlin awalnya mencalonkan Schmid untuk jabatan tersebut, tetapi kemudian menggantikannya dengan Baerbock.
Selama masa jabatan Baerbock sebagai menteri luar negeri Jerman, Israel melancarkan genosida di Gaza, yang telah menewaskan 64.522 warga Palestina selama 23 bulan terakhir.
Selama serangan brutal tersebut, Jerman terus memasok senjata senilai ratusan juta dolar kepada Israel.
Dalam pidato kontroversial di parlemen pada Oktober 2024, ia membela serangan Israel terhadap warga sipil di Gaza dengan mengabaikan hukum internasional dan Piagam PBB.
Terpilihnya mantan Menteri Luar Negeri Jerman dan pendukung Zionis Annalena Baerbock sebagai presiden Majelis Umum PBB telah memicu reaksi keras. Sebagai tanggapan, lebih dari 300 akademisi turut menandatangani surat yang menyerukan pemerintah Jerman untuk mencabut komentarnya dan meminta maaf. Mereka mengatakan bahwa sikap Baerbock sangat bertentangan dengan hukum internasional dan kesopanan dasar manusia.
“Sudah saatnya bagi Jerman untuk berdiri di sisi sejarah yang benar, menolak keterlibatan dalam kejahatan ini, dan menghormati prinsip-prinsip kemanusiaan yang pernah dijanjikannya untuk tidak pernah dikhianati,” tambah para akademisi tersebut.
Baca juga: Lebih dari 1.300 Aktor dan Sutradara Bersumpah Tidak Bekerja Sama dengan Grup Film Israel
Sementara itu, ribuan orang menandatangani petisi daring yang menyerukan pengunduran diri Baerbock. Mereka mengatakan bahwa “apa yang disebut ‘kebijakan luar negeri feminis’-nya adalah sebuah ejekan, merendahkan martabat warga Palestina sementara secara selektif bersimpati kepada para korban Israel.”


