Tehran, Purna Warta – Sekelompok 165 atlet perempuan Iran mendesak Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres agar menekan Perancis untuk membebaskan Mahdieh Esfandiari, seorang akademisi Iran yang ditahan secara sewenang-wenang di negara Eropa itu karena bersuara menentang genosida Israel di Gaza.
Esfandiari, yang ditahan di sebuah fasilitas penahanan di pinggiran Paris sejak akhir Februari, menghadapi tuduhan terkait dengan konten yang ia bagikan di Telegram sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Gaza.
Dalam surat terbuka mereka, para atlet menyampaikan keprihatinan atas penahanan Esfandiari oleh otoritas Perancis yang dinilai “ilegal dan tidak manusiawi,” dengan menyebutkan adanya kurungan isolasi, pembatasan gerak, serta penolakan terhadap akses perawatan medis.
Mereka menyerukan “pembebasan segera dan tanpa syarat” bagi Esfandiari, serta memperingatkan bahwa kelanjutan penahanannya sama saja dengan melegitimasi “tipu daya mereka yang tangannya berlumuran darah anak-anak tak berdosa.”
Para atlet itu mengutip ucapan Esfandiari: “Genosida adalah aib kemanusiaan, dan pembunuhan anak-anak adalah noda sejarah,” sambil memperingatkan Perancis agar tidak membungkam suara kebenaran.
“Diam di hadapan ketidakadilan ini berarti berpihak pada penindasan,” tulis mereka, seraya menegaskan bahwa sejarah akan mencatat dengan seksama keterlibatan semacam itu.
“Masa kini, dunia lebih dari sebelumnya membutuhkan suara persatuan melawan penindasan dan diskriminasi,” tambah mereka.
Mereka juga menekankan bahwa komunitas internasional “harus tetap sadar bahwa pengakuan terhadap Palestina hanya bermakna bila disertai tindakan nyata dan keteguhan melawan represi serta ketidakadilan — bukan dengan membatasi kebebasan berpikir dan berpendapat.”
Kementerian Luar Negeri Iran telah berulang kali melayangkan protes kepada otoritas Perancis, memanggil duta besar Paris di Tehran, dan menuntut penjelasan hukum. Namun, Perancis hingga kini belum memberikan “bukti hukum yang kuat” terkait penahanan Esfandiari.
Jaksa Perancis mengatakan Esfandiari sedang diselidiki atas tuduhan “mengagungkan terorisme” dan pelanggaran terkait media sosial, tuduhan yang ditolak Tehran dan para pembela HAM sebagai kedok politik untuk membungkam suara-suara kritis terhadap rezim Israel.


