Paris,. Purna Warta – Armada Global Sumud Flotilla, yang terdiri dari lebih dari 20 kapal, berangkat dari Barcelona, Spanyol, pada 1 September 2025, setelah sehari sebelumnya tertunda akibat cuaca buruk. Armada solidaritas ini membawa bantuan kemanusiaan, sejumlah politisi, dan aktivis — termasuk pegiat lingkungan Greta Thunberg — dalam misinya menuju Jalur Gaza.
Baca juga: 75% Warga Palestina yang Ditahan Israel dari Gaza adalah Sipil
Dalam sebuah wawancara dengan Radio J yang berbasis di Paris pada Selasa, Zarka menyampaikan komentar sinis mengenai armada tersebut. Ia meragukan apakah konvoi itu akan “bahkan tiba” di Gaza, seraya menyebut para politisi pro-Palestina di atas kapal sebagai “politisi kelas tiga” dan menambahkan harapannya agar mereka “cukup beruntung untuk tetap hidup.”
“Armada ini, sejujurnya, hanyalah aksi media lain bagi politisi kelas tiga yang tidak punya pekerjaan lain dan merasa kurang mendapat perhatian di media nasional maupun internasional,” ujar Zarka.
Menanggapi pernyataan tersebut, Thomas Portes, anggota parlemen dari partai kiri La France Insoumise, mendesak pemerintah untuk mengusir duta besar Israel dari Prancis.
“‘Duta besar’ genosida, Joshua Zarka, mengancam para peserta armada di Radio J. Prancis harus segera mengusirnya dan menutup ‘kedutaan’ yang merupakan cabang dari pemerintah teroris Israel. Orang-orang yang membuat rakyat kelaparan, melakukan genosida, dan menjalankan politik apartheid tidak pantas berada di tanah Prancis,” tulis Portes di platform X.
Sementara itu, Global Sumud Flotilla yang tengah menuju Gaza meminta perlindungan dari pemerintah Spanyol dan Eropa atas ancaman Israel.
“Israel mengancam Global Sumud Flotilla, kapal-kapal yang membawa obat-obatan dan makanan dalam misi kemanusiaan menuju Gaza. Kami menuntut agar Pemerintah dan Eropa bertindak menjamin perlindungan sesuai hukum internasional,” tulis pernyataan resmi armada di X pada Rabu.
Armada Solidaritas Gaza ini juga mengumumkan bahwa delegasi Pakistan telah bergabung dengan Sumud Nusantara asal Malaysia, yang turut serta dalam upaya mematahkan blokade Israel atas Gaza.
Selain itu, organisasi kemanusiaan berbasis di Italia, EMERGENCY, mengumumkan pada Selasa bahwa mereka bergabung dengan armada menggunakan kapal penyelamat Life Support, untuk bertindak sebagai pengamat sekaligus menyediakan dukungan medis dan logistik bagi kapal-kapal peserta.
“Ketika pemerintah-pemerintah kita gagal mengambil langkah untuk menghentikan situasi yang semakin memburuk dari hari ke hari, warga tidak tinggal diam hanya untuk menonton,” tulis EMERGENCY dalam pernyataannya.
Harian Spanyol melaporkan pada Rabu bahwa dari 30 kapal yang berangkat dari Barcelona pada Senin sore, lima di antaranya terpaksa kembali, dan dua lainnya tidak bisa meninggalkan pelabuhan akibat masalah teknis. Sekitar 20 kapal kini dikabarkan menuju Tunisia untuk bergabung dengan 20 kapal lainnya, dengan singgah singkat yang lokasinya dirahasiakan di Kepulauan Balearic, Spanyol.
Sekitar 200 aktivis, politisi, dan seniman dari 44 negara awalnya berangkat dari Barcelona pada Minggu, setelah digelar aksi dukungan besar-besaran. Greta Thunberg, yang tahun ini melakukan perjalanan keduanya, sebelumnya gagal mencapai Gaza setelah kapal yang ditumpanginya disita pasukan Israel dan para aktivis dideportasi.
Baca juga: Israel Tolak Kesepakatan Gencatan Senjata, Ancam Ratakan Kota Gaza
Aktor Irlandia Liam Cunningham, aktor Spanyol Eduardo Fernandez, dan mantan Wali Kota Barcelona Ada Colau juga ikut serta dalam pelayaran ini. Penyelenggara mengatakan bahwa armada akan diperkuat oleh kapal-kapal lain dari Italia dan Tunisia, sehingga jumlah totalnya akan mencapai lebih dari 500 orang dan sekitar 60 kapal, dengan target tiba di Gaza pertengahan September.
Sejak 2010, semua armada yang mencoba menembus blokade Gaza telah diserang dan disita oleh pasukan Israel.
Namun, Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki, Francesca Albanese, menegaskan bahwa Global Sumud Flotilla “sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional.” Dalam pesannya kepada awak kapal, Albanese menyatakan dukungannya sekaligus memperingatkan bahwa setiap upaya intersepsi dapat dianggap sebagai tindakan agresi dan pelanggaran terhadap hak-hak awak kapal berdasarkan hukum maritim internasional.


