China Akhirnya Berhenti Pasif Dan Memulai Perannya Dalam Perang Iran

china perang iran

Beijing, Purna Warta — China merupakan pemain yang senyap namun vital dalam perang AS melawan Iran, disaat aksi militer AS tersebut mengacaukan ekonomi global.

Situasi berubah pada hari Selasa, ketika Beijing mengecam blokade AS terhadap pelabuhan Iran sebagai aksi yang “berbahaya dan tidak bertanggung jawab,”. Pemimpin China, Xi Jinping memperingatkan akan kembalinya “hukum rimba.”

Intervensi publik ini sangat signifikan karena China menghadapi tekanan besar untuk menggunakan pengaruhnya guna mengakhiri perang Iran-AS. Hal ini dikarenakan dekatnya hubungan China dengan Republik Islam Iran belakangan ini.

Sebagian dari tekanan itu berasal dari blokade militer AS, yang membuat khawatir importir minyak mentah terbesar di dunia tersebut. Lebih dari setengah energi China datang melalui Selat Hormuz.

“Tindakan seperti itu hanya akan meningkatkan konflik, memperburuk ketegangan, merusak gencatan senjata yang sudah rapuh dan membahayakan keamanan navigasi selat,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun kepada wartawan pada hari Selasa. “Ini adalah perilaku yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab.”

China mengkritik serangan AS-Israel terhadap Iran dan menyerukan penyelesaian damai atas krisis tersebut. Presiden Donald Trump termasuk yang menyebut Beijing sebagai kunci dalam membawa Teheran ke meja perundingan. Namun Xi sendiri belum memberikan komentar hingga Selasa.

“Hukum internasional tidak boleh diterapkan secara selektif atau diabaikan dan dunia tidak boleh dibiarkan kembali ke hukum rimba,” kata Xi Jinping selama pertemuan di Beijing dengan Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, putra mahkota Abu Dhabi, menurut siaran pers Kementerian Luar Negeri Tiongkok.

Putra mahkota hanya salah satu dari beberapa pejabat asing yang mengunjungi Beijing dalam beberapa hari terakhir karena Tiongkok semakin gencar melakukan diplomasi dan memanfaatkan kesempatan untuk menunjukkan perbedaan kebijakan luar negerinya dengan AS.

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, yang mengunjungi China untuk keempat kalinya dalam empat tahun terakhir, mengatakan: “Saya rasa sulit untuk menemukan pihak lain selain China yang dapat menyelesaikan situasi ini.”

Sánchez menuai kemarahan Trump karena menolak AS menggunakan wilayah udara Spanyol atau mengelola pangkalan militer bersama dalam perang melawan Iran.

Meskipun China berada dalam situasi yang lebih baik berkenaan dengan daya tahan dalam krisis energi akibat situasi Selat Hormuz, akan tetapi perang berkepanjangan akan tetap memiliki dampak serius terhadap ekonomi dan sektor energi China. Beijing sangat khawatir tentang serangan balasan Iran terhadap negara-negara Teluk dikarenakan adanya kepentingan komersial disana.

“Jika negara-negara Timur Tengah satu demi satu terjerumus ke dalam konflik, maka hal itu akan sangat merugikan investasi China di Timur Tengah,” kata Zhu Feng, dekan Sekolah Studi Internasional di Universitas Nanjing, China.

Namun, Zhu mengatakan, China tidak berniat untuk terlibat secara militer di Timur Tengah.

Intervensi “akan menjadi pukulan berat bagi hubungan kita yang sangat rentan” dengan AS, kata Zhu kepada NBC News.

Laporan intelijen AS menunjukkan bahwa China berencana menyediakan persenjataan pertahanan udara baru kepada Iran beberapa minggu mendatang. CNN pertama kali melaporkan intelijen AS tersebut. Hal itu merupakan sebuah prospek yang membuat Trump mengancam akan menjatuhkan tarif tambahan 50% pada barang-barang China.

Beijing membantah memiliki rencana tersebut.

“Laporan-laporan terkait sepenuhnya dibuat-buat,” kata Guo, menambahkan bahwa China akan mengambil “tindakan balasan” jika AS menggunakan laporan tersebut sebagai “dalih” untuk menambahkan tarif.

China telah lama menjadi jalur vital bagi Iran yang dikenai sanksi berat. Iran mengirimkan sekitar 80% ekspor minyak mentahnya ke China dengan harga diskon melalui armada kapal tanker tua yang beroperasi diam-diam.

Namun, Iran hanya menyumbang sebagian kecil dari impor minyak China secara keseluruhan. Hal ini dipandang sebagai memiliki keuntungan dan pengaruh tersendiri bagi Beijing atas Tehran.

“Dengan meningkatkan tekanan pada armada bayangan dan jalur minyak Iran ke China, pemerintahan Trump berharap membuat Beijing yang notabene merupakan pelanggan terbesar Teheran merasa tidak nyaman sehingga diam-diam memanfaatkan pengaruhnya dan mendorong Iran untuk mengekang program nuklirnya atau aktivitas regionalnya,” kata Alicia García-Herrero, kepala ekonom Asia Pasifik di Natixis.

Namun, itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *